HOME
PROFIL
GALERI
grosvenor. Diberdayakan oleh Blogger.
Journey to Create the History
RSS

DIALEKTIKA ANTARA LOGIKA DAN ETIKA



Manusia dan Alam Semesta merupakan Dialektika Keberagaman antara Logika dan Etika.

Alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx. Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Misalnya, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie, filosof materialis George Politzer mengatakan bahwa “alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan” dan menambahkan: “Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan”. Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Namun, sains dan teknologi yang berkembang di abad 20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.

Manusia sesungguhnya memiliki bentuk kesadaran dan pikiran yang sangat luar biasa dalam memahami dan menganalisa  gambaran-gambaran mengenai proses dan bentuk penciptaan manusia dan alam semesta. Untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx, persoalannya adalah "bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya dan terikat pada premis-premis(dalil) material. Jadi, moralitas, agama, metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas, agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah, tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi material dan hubungan material mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi riil mereka – pemikiran dan produk-produk pemikiran mereka. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Dalam metode pendekatan pertama (non materialis), titik mulanya adalah kesadaran yang dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis), yang menyesuaikan diri (terhadap keadaanmaterial) adalah individu-individu hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran mereka."

Pada hakikatnya manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan, alam semesta memproses terjadinya perubahan pada permukaan bumi yang semakin lama semakin muncul perubahannya. Sedangkan manusia disibukkan dengan aktivitas dan pemikiran-pemikiran yang membuktikan suatu kebenaran dan logika mengenai perkembangan dan perubahan keberadaan bentuk bumi sesungguhnya. Ilmuwan-ilmuwan alam dengan etika yang dimilikinya mengeluarkan kemampuan mereka untuk memikirkan kontradiksi yang tercipta  dari suatu bumi. masih dapat disangsikan apakah mayoritas ilmuwan-ilmuwan alam akan begitu cepat menyadari kontradiksi dari suatu bumi yang berubah padahal dianggap mengandung organisme-organisme kekal (immutable = tidak berubah-ubah), seandainya menyingsingnya konsepsi bahwa alam tidak saja ada, melainkan telah menjadi berada dan menjadi tidak berada, tidak mendapatkan dukungan dari suatu sumber lain. Geologi telah bangkit dan menunjukkan bahwa, lapisan-lapisan bumi tidak saja terbentuk secara berurutan dan didepositkan satu di atas yang lainnya, melainkan juga kulit-kulit (selongsong) dan kerangka-kerangka tulang binatang-binatang yang sudah punah dan pokok-pokok batang, dedaunan dan buah-buahan tanaman-tanaman yang sudah tiada lagi yang terkandung dalam lapisan-lapisan itu. Orang harus menetapkan pikirannya untuk mengakui bahwa tidak hanya bumi sebagai suatu keutuhan, melainkan juga permukaannya yang sekarang dan tanaman-tanaman dan binatang-binatang yang hidup di atasnya memiliki suatu sejarah dalam waktu. Mula-mula pengakuan itu terjadi dengan penuh keengganan. Teori Cuvier mengenai putaran-putaran (revolutions) bumi adalah revolusioner dalam kata-kata dan reaksioner dalam isinya. Gantinya suatu penciptaan adikodrati tunggal diajukannya suatu deretan penuh tindakan-tindakan penciptaan yang berulang-ulang, menjadikan keajaiban suatu pengungkit hakiki dari alam. Lyell mula-mula menjadikan geologi dapat dimengerti dengan menggantikan revolusi-revolusi dadakan karena suasana-suasana (-hati) sang pencipta dengan efek-efek berangsur-angsur dari suatu transformasi lamban dari bumi.

Seringkali manusia mendoktrin alam semesta dalam segala bentuk, banyak pemikiran-pemikiran atau ilmu-ilmu pengetahuan mengenai antarketerkaitan-antarketerkaitan (inter-connections), berlawanan dengan metafisika. hukum-hukum dialektika diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat manusia. Karena hukum-hukum itu tidak lain yalah hukum-hukum yang paling umum dari kedua aspek perkembangan historikal, maupun dari pikiran itu sendiri. Dalam gaya idealis yang di kembangkan oleh Hegel sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama, dalam bagian pertama karyanya Logic, dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being); yang kedua mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic, Doktrin mengenai Hakekat (Essence); akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang- bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum ini disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, dan tidak dideduksi dari situ. Inilah sumber dari seluruh pendekatan yang dipaksakan dan seringkali melampaui batas (keterlaluan); semesta-alam, mau-tidak-mau, mesti bersesuaian dengan sebuah sistem pikiran yang sendiri cuma produk dari suatu tahap tertentu dari evolusi pikiran manusia. Jika kita membalikkan semuanya itu, maka segala sesuatu menjadi sederhana, dan hukum-hukum dialektika yang tampak begitu luar-biasa misterius dalam filsafat idealis seketika menjadi sederhana dan jelas seperti siang-hari bolong.

Alam semesta dan manusia merupakan misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang. Keduanya memiliki korelasi yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Proses simbiosis mutualisme yang terjadi antara alam semesta dan manusia akan terus berlangsung selama manusia memperlakukan alam sewajarnya. Manusia dengan logika dan etika mencoba membuka dan memecahkan segala kebenaran yang tekandung pada penciptaan alam semesta. Dengan kesibukkan mereka yang hanya dapat berfikir tanpa memberikan solusi yang secara tidak langsung menyebabkan eksploitasi alam yang banyak terjadi telah menyebabkan ketidakseimbangan alam itu sendiri (Nature Imbalance) sehingga keberadaan dan keadaaan alam tidak dapat diprediksikan. Pemanasan global, Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan dan Bencana alam lainnya adalah akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. Pertanyaan mendasar yang harus kita pikirkan sekarang adalah Apakah hari ini kita tergolong orang-orang yang melakukan perbaikan terhadap alam, ataukah sebaliknya? Terkadang kita hanya disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya tidak memberikan kontribusi yang baik terhadap alam, walaupun dengan secara nyata kita mengkaji tentang kebenaran alam semesta. Janganlah kita hanya berpangku tangan, marilah kita berbuat sesuatu terhadap alam ini!
Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat manusia yang mempunyai daya nalar serta pola pikir yang lebih dibanding masyarakat lain pada umumnya dituntut untuk lebih siap baik mental maupun fisik, manakala mereka terjun kedalam kehidupan bermasyarakat yang harus mengaplikasikan sikapnya dengan melibatkan masyarakat dan alam (Lingkungan Sekitar) sebagai salah satu sarananya. Karena itu,  hal yang sangat baik untuk menciptakan sebuah pemikiran antara keseimbangan manusia dan alam semesta yang merupakan dialektika keberagaman antara logika dan etika yang benar-benar seimbang yang dapat memberikan kontibusi baik itu terhadap masyarakat manusia maupun alam semesta. 

GVR.I.110113.001.PLR

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KODE ETIK PENCINTA ALAM INDONESIA

KODE ETIK PENCINTA ALAM INDONESIA

“ PENCINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “
“PENCINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”
” PENCINTA LAM INDONESIA SADAR BAHWA PENCINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pencinta alam sesuai dengan azas pencinta alam.
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.
  7. Selesai.
Disahkan bersama dalam
GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang
Pukul 01.00 WITA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MESSAGE OF THE NATIVE

Kawan,
Bila kau takut pada sesuatu,
Maka hilangkanlah ketakutanmu,
Dan bila kau berani pada sesuatu,
Maka pertahankanlah keberanianmu,
apapun yang akan menimpa dirimu,
Maka hadapilah,
Karena itu akan membuatmu menjadi seorang pemberani,
Kawan,
Alam yang maha luas adalah sahabatmu,
Dan semesta yang maha dahsyat adalah hidupmu,
Apapun yang akan mencoba merusaknya,
Maka hancurkanlah,
Karena itu adalah tugasmu.
Kawan,
Jadilah seekor Singa Jantan,
Bertahan diterpa angin dan badai,
Padang luas nan panas adalah sarangnya,
Rimba raya nan belantara adalah kekuasaannya,
Dan sekali mengaumkan suaranya,
Berjuta hewan bergetar mendengarnya,
Kawan,
Ingat dan sampaikanlah selalu pesan ini!
“Jadilah Pelopor dan Jangan Pernah Jadi Pengekor”.

GVR.I.110113.001.PLR



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENJELAJAHANKU

PENJELAJAHANKU

Sahabatku,
Bila kau tak bisa menjadi pohon yang besar
Jadilah kau belukar yang baerada ditepi sungai
Atau menjadi akar yang selalu menjaga pohonnya
Tidak tumbang diterpa angin
Sahabatku, tahukah kamu?
Orang yang dapat merobek dunia adalah orang yang berani dan tidak takut akan sedikitpun
Sahabatku, kalau kau menginginkan telur Rajawali,
Dakilah gunung yang terjal dan tinggi nan menjulang ke atas langit
Tapi, bila kau tak berani, carilah telur burung pipit yang tinggal di pepohonan rindang
Sahabatku, ingatlah petuahku ini!

JADILAH SEEKOR RAJAWALI

Kesepian menjadi mahkotanya,
Topan dan badai menjadi temannya,
Tetapi sekali mengembangkan sayap,
Seribu dara berlindung di bawah ketiaknya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEARCH AND RESCUE (SAR)

Pengertian SAR
Search and Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan memberikan pertlongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi :
Mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana atau musibah.
Mencari kapal dan atau pesawat terbang yang mengalami kecelakaan
Evakuasi pemindahan korban musibah pelayara, penerbangan, bencana alam atau bencana lainya dengan sasaran utama penyelamatan jiwa manusia.
Lahir Dan Berkembangnya SAR di Indonesia
Negara Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, yang menggunakn sarana perhubungan dengn sarana darat, laut, dan udara. Hal ini memungkinkan adanya
musibah atau bencana seiring dengan pertumbuhan penduduknya.Sejak tahun 1950, Indonesia sudah terdaftar sebagai anggota ICAO ( International Civil Aviation Organization) dan IMCO ( Inttternasional Maritime Consutative Organization ) yag wajib memberikan pelayanan SAR jika terjadi musibah atau kecelakaan pada penerbangan ataupun pelayaran serta bertanggung jawab atas wilayahnya dengan melakukan koordinasi SAR.
Karena sifat dari musibah, jarak,teknik,dan unsur SAR dari unit-unit terkait semakin banyak maka pada tanggal 28 Februari 1972
di bentuklah Badan SAR Indonesia (BASARI) berdasarkan Kepres no.11 tahun 1972, yang kemudian berganti menjadi Dadan SAR Nasional (BASARNAS) berdasarkan Kepres no. 47 tahun 1979 yang merupakan lembaga pelaksana kegiatan SAR tingkat pusat.
Pada tahun 1993 secara elembagaan organisasi SAR tumbuh dan berkembang makin pesat, baik di kalangan instansi pemerintah atau masyarakat yang semuanya mnjalankan fungsi SAR yaitu kegiatan evakuasi, seperti Mawil Hansip sebagai coordinator pelaksana penanggulangan bencana alam (SalKorLak PBA) ataupun kelompppok-kelompok pencinta alam yang membentuk tim ksusus dengan tugas melaksanakan kegiatan SAR. Dalam perkembangannya kegiatan SAR dibedakan menjadi 3, yaitu : SAR darat, SAR air, dan SAR Udara
a.Badan SAR Indonesia (BASARI)
BASARI merupakan Badan SAR yang pertama di Indonesia, yang merupakan badan yang menyelenggarakn tugas-tugas pencarian dan pertolongan serta berkedudukan dan bertanggungjawab kepada presiden.
BASARI mempunyai fungsi sbb:
Mengkoordinasikan semua kegiatan atau usaha-usaha pencarian dan pertolongan sesuai dengan peraturan SAR nasinal dan internasional.
Merencanakan, membina, dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan SAR di wilayah dan di daerah.
Menyelenggarakan kerjasama dengan negara tetangga dan organisasi internasional di bidang SAR.
b.Badan SAR Nasional (BASARNAS)
BASARNAS yang dulunya adalah PUSARNAS mempunyai tugas pokok membina dan mengkoordinasi semua usaha kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelematan sesuai dengan peraturan SAR nasional dan international terhadap orang dan materiil yang hilang atau menghadapi bahaya dalam penerbangnan, pelayaran dan bencana alam.
Struktur Intern BASARNAS terdiri dari :
1)Sekretariat Badan : Bertugas memberikn pelayanan teknis dan administrative bagi seluruh satuan organisasi lingkungan BASARNAS dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
2)Pusat Pembinaan : Bertugas membina, memberikan pengarahan serta mengkoordinasi potensi-potensi SAr baik tenaga maupun peralatan dan persiapan menghadapi setiap kemungkinan terjadinya musibah penerbangan, pelayaran dan bencana alam.
3)Pusat Operasi SAR : Bertugas membina dan melaksanakan pengendalian operasi komunikasi dan elektronika, maka Pusat Operasi SAR terdiri dari bidang pengendalian dan bidang komunikasi elektronika.
c.Kantor Koordinator Rescue (KKR)
Kantor Koordinator Rescue (KKR) bertugas memyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua unsure SAR dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggungjawabnya. Organisasi Intern KKr adalah sbb :
1)Seksi Perencaan : Bertugas membantu kepala KKR di bidang perencaan dan program serta mempersiapkan perjanjian dengan instansi lainya.
2)Seksi Operasi : Bertugas melaksanakan system dari SAR dalam wilayah tanggung jawabnya.
3)Seksi Umum : Bertugas menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrative.
Jumlah KKR di Indonesia ada 4 yaitu :
1)KKR I: Jakarta dengan wilayah tanggung jawab melipui seluruh Sumatera, wilayah egara kita di LAut Cina Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah ( sesuai FIR Jakarta ditambah seluruh kepulauan Riau dan ebagian Laut Cia Selatan).
2)KKR II: Surabaya dengan wilayah tangung jawab meiputi Kalimanatan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timr ( sesuai FIR Denpasar )
3)KKR III: Ujung Pandang dengan wilayah tanggung jawab meliputi seluruh Sulawesi dan Maluku ( sesuai FIR Ujung Pandang).
4)KKR IV: Biak dengan Wilayah tangug jawab meliputi seluruh Irian Jaya (sesuai FIR Biak).
d.Sub Koordinasi Rescue (SKR)
Sub Koordinasi Resceu (SKR) mempunyai tugas sebagai berikut :
1)Sebagai perangkat pelaksana SAR, mengkoordinaasikan danmengarahkan pengguaan fasiitas sarana personil di wilayah tanggung jawabnya. SKR mempunyai fungsi melaksanakan peningkatan kesiagaan dan kemampuan teknis perasional.
2)Mengusahakan kerja sama semua unsur SAR yang berada dalam wilayahnya.
3)Menghubungi instansi pemerintah dan swasta di wilayah tanggungjawabnya sebagai koordinasi SAR.
4)Merencanakan dan mengadakan pelaksanaan-pelaksanaan SAR dalam wilayahnya.
5)Mengumpulkan data-data keterangan fasilitas, saran personil dan materiil dalam ilayahnya yang dilakukan untuk tugas SAR.
6)MEnyusun laporan hasil pelaksanaan SAR.
Tingkat Keadaan Darurat
Dalam SAR dikenal 3 tingkat keadaan darurat yaitu :
1.INCERFA ( Ucertainityphase / fase tidak menentu / fase meragukan )
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai kehidupan/keselamatan orang-orana/penumpang pesaawat karena adanyainformasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan atau karena pesawat/kapal itu tidak memberikan tentang informasi posko sebenarnya (loss contack).
2.ALERFA ( Alertphase / fase mengkhawatirkan / fase siaga )
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai kehidupan/keselamatan/penumpang pesawat kaaarena adanya informasi yang jelas bahwa karena pesawat/kapal tidak memberikan informasi lanjutan perkembangan posisi atau keadaanya.
3.DETRESFA ( Distress Phase / Fase darurat bahaya )
Adalah suatu keadaan emergency ang ditujukan bila bantuan yang cepat telah dibutuhkan oleh pesawat/kapal yang tertimpa musibah karena telah terjadi informasi perkembangan posisi/keadaan setelah prosedur Alert Phase dilalui.
Tahapan Operasi SAR
Untuk mempermudah operasi SAR maka operasional dibagi dalam kelompk tahapan-tahapan, yaitu sbb :
1)Awareness Stage ( Tahap Kekhawatiran )
Kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat mungkin akan muncul. Termasuk didalamnya penerimaan informasi keadaan darurat dari seseorang.
2)Initial Action Stage ( TAhap Kesiagaan )
Aksi persiapan ini diambil untuk menyiagakan fasilitas SAR dapat mendapatkan informasi yang lebih jelas, termasuk didalamnya :
Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang didapat
Menyiapakan fasilllitas SAR
Pencarian awal dengan komunikasi ( Plllemininary Communication Check )
Perluasan pencarian degan komunikassi ( Extender Communication Check Excom)
Pada kasus yang gawat dilaksanakan aksi secepatnya setelah tahapan tersebut bila keadaan mengharuskan.
3)Planing Stage ( Tahap Perencanaan )
Yaitu suatu pengembangan perencanaan yang efektif termask didalamnya :
Pertunjukan SMC ( SAR Mission Coordinator)
Perencanaan pencarian dan dimana sepatutnya dilaksanakan.
Menentukan posisi paling mungin ( Most Propible Position / MPP ), dari korban yang keadaan darurat itu.
Luas dari Search Area.
Tipe pola pencarian
Perencanaan pencarian yang didapt dipakai
Memilih pembebasan/Delivery Point yang aman bagi korban
4)Operation Stage ( Tahap Operasi )
Yaitu thap operasi termasuk didalamnya yaitu :
Fasilitas SAR bergerak ke lokasi
Melakukan pencarian
Menolng/menyelamatakan orang
Memberikan perawatan gawat darurat pada orban yang membutuhkan pertolongan
Melakukan penggantian/penjadwalan pasukan pelaksanan di lokasi kejadian
5)Mission Conclusion Stage ( Tahap Akhir Misi )
Tahap konklusi ini adalah gerakan dari seluruh fasilitas SAR yang digunakan dari suatu titik pembebasan yang aman ke lokasi semula darinya (Reguler Location) termasuk didalamnya :
Mengembalikan pasukan ke pangkalan (base camp) pencarian.
Penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Membuat dokumentasi misi SAR itu
Mengembalikan SAR Unit ke instansi masing-masing.
Komponen SAR
1.Organisasi
A.SC(SAR Coordinator)
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR / SKR dalam menggerakkan unsure-unsur operasi SAR karena jabatan dan wewenang yang dimillikinya. Kemudian unsure ini diserahkan kepada SMC untuk digunakan dalam opersi SAR.
B.SMC(SAR Mission Coordinator)
Adalah pejabat yang ditunjuk kepala BASARNAS / KKR / SKR karena memiliki kualifikasi yang ditunjuk atau telah melelui pendidikan sebagai seorang SMC yang diakui. SMC ini yang akan mengkoordinasi dan mengendalikanoperasi SAR dari awal sampai selesai. SMC ini mempunyai tugas dan tanggung jawab mengenai :
Mendapatkan informasi musibah.
Informasi mengenai keadaan cuaca dan laut.
Menentukan daerah pencarian, cara dan fasilitas yang akan digunakan.
Membagi-bagi daerah pencarian.
Mengandalkan briefing terhadap unsure SAR yang dilibatkan.
Mengevaluasi setiap perkembangan.
Melaporkan kegiatan operasi secara teratur ke BASARNAS / KKR /SKR.
Mengatur droppingperbekalan.
Mengadakan koordinasi dengan KKR / SKR tetangga apabila pencarian tidak terbatas pada satu wilayah SAR saja.
Menyarankan penghentian usaha pencarian bila dipandang perlu.
Membebaskan unsur SAR dan menghentikan kegiatan hanya karena bantuan mereka tidak diperlukan.
Membuat laporan terakhir perihal kaadaan hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.
C.OSC (On Scene Commender)
Adalah seorang pejabat yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasi dan mengendalikan unsur-unsur SAR di lapangan. Berarti OSC ini melaksanakan sebagian tugas-tugasnya. Dan persyaratan sebagai OSC sama dengan persyaratan yang diperlukan SMC. DI Indonesia saat ini adanya seorang OSC dalam operasi SAR dirasakan perlu karena belum lancarnya komunikasi yang ada dan luasnya area pencarian.
D.SRU (Search and Rescue Unit)
Adalah unsure SAR yang dioperasikan pada kegiatan SAR dan mengikuti pertahapan organisasi / instasi yang diperlukan dan diperbantukan / ditugaskan oleh instansi induknya atau merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam operasi SAR.
2.Fasilitas
Yang dimaksud fasilitas SAR adalah pendukung dari seluruh penyelenggaraan operasi SAR, dapat berupa fasilitas milik pemerintah,swasta,perusahaan,kelompok masyarakat maupun perorangan yang digunakan dalam operasi SAR. Jenisnya dapat berupa personil,pesawat,kapal laut,fasilitas komunikasi,tanaga-tenaga khusus terlatih,peralatan emergency dan lain-lain.
3.Komunikasi
Komunikasi ini akan berperan :
penyampaian keadaan emergency
untuk menaggapi/memberi respond an melanjutkan informasi pada berbagai pihak yang terkait dalam operasi SAR.
Untuk mengendalikan suatu operasi
Di dalam komunikasi SAR ini termasuk juga singnal-singnal darurat, komunikasi operasi SAR,
penyampaian informasi SAR, fasilitas komunikasi yang dapat digunakan dan jaringan komunikasi.
Tanpa adanya komunikasi maka pelaksanaan operasi tidak dapat berjalan dengan efektif dan efesien dengan hasil yang diharapkan.
4.Pelayanan Darurat Medik
Memberikan perawatan gawat darurat semampu mungkin pada korban yang cedera agar korban bertahan hidup dalam usaha pertolongan. Termasuk didalamnya penerapan keahlian-keahlian pertolongan pertama darurat sakit korban di lokasi kejadian serta evakuai dan transportasi korban ke rumah sakit atau pihak yang menangani lebih lanjut.
5.Dokumentasi
Memberikan semua data dan analisa dari informasi yang berhubungan dengan misi SAR termasuk semua data yang diterima pada tahap kekhawatiran sampai tahap terakhir komunikasi misi. Khususnya dimasukkan cerita / catatan baik secara tertulis atau visual (gambar / foto). Dan ini merupakan bahan untuk evaluasi kegiatan dan merupakan pedoman bagi kegiatan selanjutnya.
EXPLORER SAR(Teknik-teknik Pencarian)
Walaupun perencanaan-perencanaan pencarian yang spesifik akan bervariasi tergantung kepada situasinya strategi yang umum telah dikembangkan, yang mana akan dapat diterapkan untuk hampir seluruh situasi didalam bebas. Kesemuanya ini berputar berkisar 5 mode sebagai berikut :
1.Preliminary Mode
Mengumpulkan informasi-informasi awal, saat dari tim-tim pencari diminta bantuan tenaganya sampai kedatangan dilokasi, formasi dari perencanaan pencarian awal, perhitungan-perhitungan,dsb.
2.Confinement Mode
Memantapkan garis batas untuk mengurung orang yang hilang berada didalam area pencarian (search area).
3.Detection Mode
Pemeriksaan-pemeriksaan tempat-tempat yang dicurigai bila dirasa perlu dan pencarian dengan cara menyapu (sweep searches) diperhitungkan untuk menemukan orang yang hilang.
4.Tracking Mode
Mengikuti jejak-jejak atau barang-barang yang tercecer yang ditinggalkan orang hilang.
5.Evacuation Mode
Memberikan perawatan kepada korban dan membawanya dengan tandu apabila dibutuhkan.
Dari kelima mode itu, anggota ESAR (Explorer Search And Rescue) tim umumnya akan banyak terlibat pada Confinement, Detection, dan Evacuation. Pada Preliminary Mode, Operation Leader (OL) dari ESAR akan menjabat pekerjaan sebagai perhubungan dengan badan yang bertanggung jawab (Polisi, Badan SAR Nasional, dll)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT (PPGD)


Pertolongan Pertama Adalah Tindakan atau bantuan awal yang diberikan kepada korban cedera atau penyakit mendadak sebelum bantuan tenaga ahli datang(Dokter/Petugas kesehatan)
TUJUAN PERTOLONGAN PERTAMA
1. Menyalamatkan Jiwa/Hidup
Cara :
• Memeliharajalan nafas korban tetap lapang
• Meletakkan dalam posisi yang sesuai
• Melakuakn resusitasi bila perlu
• Mengendalikan perdarahan
2. Mencegah Kondisi Memburuk Atau Cacat
Cara :
• Menutup dan membalut luka
• Meletakkan pada posisi perawatan yang sesuai
• Mengimmobilisasikan luka berat dan patah tulang
3. Menunjang Penyembuhan
Cara :
• Menangani dengan hati-hati
• Mengurangi kecemasan korban
• Meningkatkan rasa percaya korban
• Mengurangi rasa tidak enak dan nyeri
• Melindungi dari suhu lingkungan yang tidak baik
TANGGUNG JAWAP PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA :
? Menilai Situasi
? Mengidentifikasikan cedera/penyakit
? Memberi pertolongan sesuai prioritas
? Mengatur pemindahan korban
? Menjaga korban sampai dialihakn
Informasi untuk mendiaknosa masalah didapat dari :
• RIWAYAT : Bagaimana kejadian terjadi dengan cara menanyakan langsung pada korban atau orang lain.
• GEJALA : Sensasi yang dirasakan korban
• TANDA : Detail sensasi yang diketahui penolong dengan menggunakan inderanya : Penglihatan,Perabaan,Pendengaran dan Pembauan.
MEMINTA BANTUAN PELAYANAN MEDIK DARURAT :
Informasikan hal berikut :
o Nonor telepon panggil
o Nama Pemanggil
o Lokasi kejadian yang tepat(detail)
o Jumlah,jenis kelamin dan perkiraan umur korban
o Jenis cedera
o Bantuan yang dibutuhkan/alat khusus
o Pertolongan Pertama yang sudah diberikan
PEDOMAN PEMERIKSAAN :
• Gerakkan korban seminimal mungkin
• Mulai pemeriksaan sistematik dari kepala ke kaki
• Ingat,gunakan semua indera : Lihat,dengar rasa/raba,dan bau
• Selalu bandingkan satu sisi tubuh dengan sisi yang lain
PELAPORAN ATAU PENCATATAN KORBAN :
Sertakan korban dengan catatan informasi mengenai :
• Riwayat peristiwa / kejadian
• Diskripsi cedera
• Tingkat kesadaran dan perubahannya
• Cedera lain yang menyertai
• Denyut nadi dan perubahannya
• Warna kulit dan perubahannya
• Darah yang hilang
• Sikap yang aneh(tidak biasa)
• Perawatan yang diberikan
• Informasi tambahan :
1. Tanda medik
2. Kartu donor
3. Catatan harian,dll.
LANGKAH-LANGKAH PERTOLONGAN PERTAMA :
K R A B C
K : Keselamatan diri penolong
R : Respon (Tanggapan)
A : Airway (Jalan Napas)
B : Breating(Sirkulasi)
C : Circulation(Sirkulasi)
1. Cek denyut nadi
2. Cek perdarahan berat
K : Kelumpuhan/Kelemahan
- Cek Tulang Belakang
PEMERIKSAAN PRIMER :
Langkah-langkah :
-Periksa Kesadaran
- Minta bantuan
- Posisikan Korban
- Buka jalan napas(kendalikan cedera tulang)
- Periksa pernapasan(lihat dengar rasa)
*Bila tidak napas…………………. Beri 2 tiupan awal
- Periksa denyut nadi
* Bila tidak ada…………………… Lakukan kompres dada
- Periksa perdarahan berat
* Bila tidak ada…………………… hentikan segera
PEMERIKSAAN SEKUNDER :
Langkah-langkah :
- Tanya Jawab
- Periksa tanda vital
- Periksa kepala kaki
1. Periksa Kepala
2. Periksa Telinga, Hidung, Mulut
3. Periksa Leher
4. Periksa Bahu
5. Periksa Dada-Perut
6. Periksa Lengan
7. Periksa Panggul & Tungkai
DENYUT NADI
Kecepatan Nafas Normal(Istirahat)
- Bayi : 25-50 Per menit
- Anak : 15-30 Per menit
- Dewasa : 12-20 Per menit
KECEPATAN DENYUT NADI NORMAL(Istirahat)
- Bayi : 120-150 Per menit
- Anak : 80-150 Per menit
- Dewasa : 60-80 Per menit
PERALATAN PERTOLONGAN PERTAMA
1. Penutup Luka
- Kasa Steril
- Bantalan Kasa
2. Pembalut
Contoh
- Pembalut Gulung/Pita
- Pembalut Segitiga/Mitella
- Pembalut Rekat/Plester
3. Cairan Antiseptik
- Alkohol 70%
- Povidone iodine 10%
4. Cairan Pencuci Mata
- Boorwater
5. Peralatan Stabilisasi
- Bidai
- Papan Spinal Panjang
- Papan Spinal Pendek
6. Gunting pembalut
7. Pinset
8. Senter
9. Kapas
10. Selimut
11. Kartu Penderita
12. Alat Tulis
13. Oksigen
14. Tensimeter dan Stetoskop
15. Tandu
SYOK
• Gejala – Tanda Awal :
1. Kulit pucat (bibir bagian dalam)
2. Kulit dingin,lembab,berkeringat
3. Nadi cepat
4. Pengisian kapiler lambat ( Cuping telinga & hidung pucat)
• Gejala – Tanda berkembang
1. Lemah dan Pening
2. Mual mungkin Muntah
3. Haus
4. Napas Cepat – dangkal
5. Denyut nadi lemah – sukar dirapa
• Gejala – Tanda lanjut
1. Gelisah,cemas, bahkan agresif
2. Menguap (lapar udara)
3. Tidak sadar
4. Henti jantung
Pertolongan Pertama :
? Hentikan perdarahan berat / atasi sebab
? Perlu perhatian medis
? Baringkan
? Tinggikan tungkai , bila mungkin
? Rawat luka
? Immobilisasi patah tulang
? Longgarkan ikatan pakaian
? Jaga suhu tubuh ( Selimuti)
? Bila haus basahkan bibir
? Awasi & catat napas,nadi,kesadaran
? Bila tak sadar,muntah atau napas sukar : posisikan stabil
CEDERA DADA REMUK
Gejala & tanda :
? Gejala dan tanda umum kekurangan oksigen
? Sukar dan nyeri bernapas
? Gerakkan abnormal rongga dada waktu bernapas
? Dinding dada kehilangan bentuk
? Mungkin muntah darah (petunjuk kerusakan paru-paru)
Pertolongan pertama :
? Topang cedera dengan tangan penolong
? Buat posisi setengah duduk, miring ke sisi cedera
? Immobilisasi dinding dada
? Letakkan bantalan tebal diatas cedera
? Buat sling elevasi, lengan sisi cedera
? Longgarkan ikatan pakaian
? Periksa dan rawat cedera lain
? Bila tidak sadar-bernapas, buat posisi stabil, sisi sehat diatas
? Transportasi ke fasilitas medis dalam posisi
PINGSAN
Gejala dan tanda :
? Limbung
? Pandangan kabur
? Lemas
? Perasaan Panas dan dingin
? Menguap
? Hilang kesadaran sesaat
? Denyut nadi lambat
? Kulit lembab,dingin,pucat
Pertolongan Pertama :
? Baringkan, tungkai tinggikan
? Longgarkan ikatan pakaian
? Beri udara segar
? Periksa cedera lain
? Pulih, istirahatkan beberapa menit
? Bila tidak pulih cepat, perlu perhatian medis
• Periksa napas,nadi
• Posisikan pemulihan
CEDERA KEPALA
Gejala dan tanda :
? Riwayat cedera
? Hilang kesan(memori)
? ]Sakit kepala
? Penglihatan kabur
? Abnormal respon dan sentuhan
? Luka pada kepala atau wajah
? Darah dari telinga atau hidung
? Manik mata tidak sama
Pertolongan Pertama :
? Bila sadar :
- posisikan stabil
- bersihkan dan buka jalan napas
- awasi napas dan sirkulasi
? Topang kepala – leher sewaktu pemindahan
? Bila wajah cedera berat, Buka jalan napas dengan jari
? Hentikan pendarahan (jangan tekan langsung)
? Bila darah dari telinga, beri penutup luka steril
? Bila cedera mata, beri bantalan dan balut ringan kedua mata
? Perlu perhatian medis
HISTERIA
Gejala dan tanda :
? Hilang kesadaran sesaat dengan dramatisasi sikap
? Korban mungkin : berguling di tanah atau merobek-robek pakaian atau berteriak atau menangis
? Napas cepat
? Tidak dapat gerak tanpa sebab yang tampak jelas
Pertolongan pertama :
? Tenangkan
? Hindari dari massa
? Bawa ke tempat tenang
? Dampingi dan awasi terus
? Anjurkan ke dokter, setelah tenag
LUKA- PENDARAHAN
Klasifikasi luka :
- Terbuka
- Tertutup
Jenis luka terbuka :
- lecet
- iris
- robek
- tembus
Jenis luka tertutup :
- memar
Klasifikasi Perdarahan :
- Tertutup
- Terbuka
PERDARAHAN TERBUKA
Gejala dan tanda :
- Tampak jenis luka (kulit rusak)
- Tampak ada perdarahan
Pertolongan Pertama :
- Baringkan terlentang
- Hentikan perdarahan
- Istirahatkan dan tinggikan, bila mungkin
- Longgarkan ikatan pakaian
- Jangan beri makan atau minum
- Perlu bantuan medis
PERDARAHAN TERTUTUP
Gejala dan tanda :
- Kulit dingin,lembab,dan bercak
- Nadi cepat-lemah
- Nyeri
- Rasa haus
- Konfusi(bingung,gelisah dan cemas)
- Dapat menjadi tak sadar
- Ada lebam
Pertolongan Pertama :
- Baringkan atau dudukkan bila batuk darah
- Tinggikan tungkai atau tekuk lutut
- Longgarkan ikatan pakaian
- Perlu perhatian medis
- Jangan beri makan atau minum
- Tenagkan
LUKA TERBUKA
Pertolongan pertama :
- Hentikan perdarahan
- Bersihkan luka
- Beri penutup luka
- Balut
- Perlu perhatian medis
PENUTUP LUKA DAN PEMBALUTAN
Macam penutup luka
- Penutup luka dengan obat
- Penutup luka tanpa obat
Macam pembalut :
- Pembalut berperekat(plester)
- Pembalut tanpa perekat
PATAH TULANG
Klasifikasi :
- Tertutup
- Terbuka
Gejala dan tanda :
• Rasa atau dengar derik patahan
• Nyeri
• Sukar atau tak dapat gerak
• Hilang kekuatan
• Kelainan bentuk
• Nyeri tekan
• Bengkok-memar
Pertolongan Pertama Umum :
• Hentikan perdarahan
• Tutup luka
• Periksa patahan
• Anjurkan tidak bergerak
• Immobilisasi
• Pindahkan, bila ada bahaya
• Tangani dengan lembut
• Atasi dan cegah syok
• Perlu bantuan medis
PATAH TULANG LENGAN ATAS
Gejala dan tanda :
- nyeri
- hilang fungsi gerak
- bengkok-memar
- korban menopang lengan cedera
Pertolongan Pertama :
- posisikan duduk
- topang lengan cedera di dada
- beri bantalan antara dada dengan lengan
- pakaikan gendongan lengan
- balut fiksir dengan balutan lebar
- periksa denjut nadi
- perlu bantuan medis
CARA PENGANGKUTAN KORBAN
Pengangkutan tanpa menggunakan alat (hanya 1 penolong):
- memapah
- membopong
- menggendong
- menjulang
- menarik
Pengangkutan tanpa menggunakan alat ( 2 penolong) :
- pengangkutan duduk
- pengangkutan terbaring
- penggangkutan duduk di atas kursi
- pengangkutan bergantung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OLAH RAGA ARUS DERAS (ORAD)

Pendahuluan

Berperahu mengarungi sungai berarus deras. Bunyi gemuruh riak air mengiri dari awal hingga akhir. Menaiki lidah-lidah air, tubuh kadang kala akan terombang-ambing sambil harus terus mendayung. “Dayung maju!” teriak skipper sesaat perahu akan masuk jeram, lalu disusul “Potong-potong!….dayung kuat!” ketika bagian depan perahu terangkat keatas tepat ditengah jeram, semua mendayung dengan sekuat tenaga. Di akhir jeram, harus menghindara belokan sungai, “Kiri mundur….dayung maju!!!” teriak skipper ketika melihat arus eddies di depan kirinya. Perahu memasuki eddies lalu berputar-putar mengikuti arus, semua menarik napas lega. Sesaat kemudian skipper berkata “ dayung maju Kuat…!!!”
Dalam olah raga arus deras
ataupun arung jeram, kondisi seperti diatas akan sangat mudah kita temui. Kadangkala kondisi yang tidak kita inginkan bisa terjadi, misal salah seorang awak perahu terlempar keluar dari perahunya saat menghadapi jeram ataupun saat menghadapi kondisi perahu trapp saat menerjang batu besar yang membelah arus air yang deras dan ataupun ketika akhirnya semua awak terlempar keluar dan perahu terbalik ketika melewati hole yang kuat.
Demikian ORAD termasuk salah satu Kegiatan Alam Terbuka (KAT) yang memiliki resiko tinggi. Resiko tersebut dapat dikurangi bila sebelum pengarungan dilakukan persiapan yang baik. Persiapan yang baik adalah belajar dan belatih dengan baik, secara teknis, ketrampilan, maupun pengetahuan dan perlengkapan.

I . Sejarah Arung Jeram

Sejak dahulu manusia telah mengenal air baik untuk kebutuhannya untuk memuaskan dahaga maupun hal lainya.
Secara naluri manusia lebih banyak pada daerah dekat dengan sumber air misalnya sungai, entah sejak kapan dimulainya manusia mengarungi tepat tersebut. Pengarungan tersebut dahulu menggunakan alat yang masih sederhana yaitu mulai dari batang pohon yang diikat jadi media pengapung ataupun batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya untuk tempat duduk (perahu sederhana). Kegiatan pengarungandengan media pengapung inipun terus berubahsesuai dengan kebutuhan, kemajuan jaman dan teknologi.
Pada abad 19 untuk pertama kalinya John Mc Gregor yang merupakan seorang pramuka mengembangkan kendaraan air untuk rekreasi ataupun untuk olah raga, seturut teknologi, penggunaan perahu karet pun semakin banyak dan berkualitas. Pada tahun 1983 perahu buatan Jim cassidy dengan ‘self bailer”-nya berhasil menarik perhatian orang banyak sehingga populer sampai sekarang. Kesuksesan ini karena perahu buatannya memiliki lantai yang bisa diisi udara sehingga mempunyai daya apung yang lebih baik dan mampu mengeluarkan air sendiri dengan hanya memberikan penambahan lubang air dibagian tepi perahu.
Seperti hal di dunia, pengarungan sungai dan laut juga telah dilakukan oleh nenek moyang kita berabad-abad yang lalu contohnya oleh suku-suku dayak di Kalimantan (Borneo) yang mengarungi sungai Kapuas ataupun sungai Mahakam dengan menggunakan perahu badiknya dan suku-suku pedalaman Irian (Papua) yang mengarungi sungai Memberamo yang terkenal dengan sebagai sungai sempit dan banyak jeram.
Secara umum, tidak diketahui secara pasti sejak kapan pengarungan sungai berarus deras menggunakan perahu karet dilakukan di Indonesia namun secara pasti tercatat dalam sejarah adalah pada tanggal 17 april 1975 dimana diselenggarakan sebuah kompetisi Citarum Rally I di sungai Citarum Jawa Barat oleh Wanadri Bandung.
Ekspedisi pengarungan sungai internasional pertama kali dilakukan oleh klub Aranyacala Trisakti yang mengarungi sungai-sungai di negara bagian California, Oregon dan Idaho, amerika serikat pada tahun 1992. Ekspedisi tersebut lalu dilanjuti oleh tim wanita dari klub yang sama pada tahun 1994 dengan mengarungi Zambesi, Zimbabe.

II. Karakteristik Sungai

A. Jeram / Riam
Jeram (rapid) adalah bagian dari sungai dimana aliran air mengalir dengan deras yang melintasi suatu rintangan. Jeram juga biasanya diartikan dengan air yang cepat dan berbahaya.
Jeram terbentuk karena beberapa faktor :
• Volume air
• Tingkat kecuraman / kemiringan sungai (Gradien)
• Tonjolan dasar sungai ( Roughness)
• Rintangan (Obstacles)
• Penyempitan leher penampang sungai, makin sempit makin deras arusnya.

B. Rintangan-Rintangan Sungai
Rintangan bermacam-macam bentuknya, seperti batu, dinding sungai, bongkahan, relief dasar sungai, tikungan dan masih banyak lainnya seperti dibawah ini :
- Longsoran / runtuhan, berupa pecahan batu besar dan tebing sungai yang runtuh yang menciptakan lorong-lorong dibawah air.
- Strainer, suatu penghalang atau benda yang berada tidak jauh diatas permukaan air. Biasanya pada lembah sempit (misal pohon tumbang).
- Undercut, Biasanya terdapat pada tebing di kelekon sungai berupa rongga di bawah air akibat terjadinya abrasi.
- Entarpment, Sungai dangkal berbatu dengan arus yang deras.
- Dam, Tebing kecil pada sungai atau bagian dari sungai yang permukaan dasarnya langsung curam, secara vertikal menyebabkan perbedaan ketinggian permukaan sungai yang cukup tinggi. Dam dapat menyebabkan arus balik yang cukup mematikan.
- Tongue (lidah air) atau Wave (ombak), merupakan awal Dari jeram/riam sebagai percepatan arus yang bentuknya terlihat dari atas seperti V. Arus ini dibentuk oleh dua buah rintangan berupa batu atau hole, atau karena kecuraman yang tidak teratur. Tongue/wave terbagi atas :
• Ombak berdiri (Standing wave / Breaking wave). Ombak dengan luapan sangat besar, ombak menghasilkan guncangan dan hentakan balik yang cukup keras akibat dua rintangan besar batu atau hole.
• Ombak V (V wave). Ombak akibat dari tingginya kemiringan, penyempitan atau derasnya arus akibat 2 atau lebih rintangan yang ada disebelahnya. Ombak ini sangat bagus untuk diarungi.
• Ombak tak beraturan (Side Curling wave). Ombak yang sangat mudah dapat merubah arah perahu.
- Stopper (gelombang balik)
Merupakan gelombang yang berputar vertikal atau terbalik ke hulu sungai yang disebabkan oleh penurunan dasar sungai.
Jeram ini dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
• Hole. Pemukaan air yang berbentuk lobang dan ada sirkulasi air dibelakang lubang tersebut. Stopper ini terjadi akibat adanya suatu rintangan didasar sungai yang membentuk cekungan / lubang yang dapat menahan, menjebak dan membalikkan perahu kedalam buih ynag berbahaya. Hole yang sangat besar dan terdapat sirkulasi air dari segala arah disebut dengan ‘Toilet_bowl’, karena bentuk dan sifat fisiknya seperti air kloset waktu di _flushing (hole yang sangat berbahaya). Hole yang tidak terlalu besar berguna dalam mengurangi kecepatan dan membantu manuver perahu (bagus untuk dilintasi).
• Gelombang Pecah. Stopper terjadi akibat adanya penurunan dasar sungai yang terjal kemudian datar kembali.
• Eddy / Eddies (arus balik). Eddies yaitu stopper dimana suatu arus sungai seakan-akan berhenti dan berbalik ke arah hulu sungai (up-stream). Eddies terbentuk karena adanya arus yang menabrak rintangan seperti batu atau benda-benda lainnya dan tidak dapat melewati rintangan tersebut sehingga akan terjadi kekosangan atau kekurangan air serta perbedaan tekanan air. Oleh sebab itu, air dari arah lain akan mengalir kembali keatas untuk menyamakan permukaan di daerah lain. Eddies biasanya berada bersebelahan dengan arus utama, pada tikungan, dibelakang benda berupa batu-batu besar. Makin deras arus makin kuat eddies yang ditimbulkan. Eddies berguna dalam sebagai tempat berhenti / atau istirahat, sebagai pengurang kecepatan atau break serta menolong dalam manuver membelokkan perahu.
- Bends (belokan). Arus sungai yang deras dan membentur dinding pada suatu belokan sebelah luar.
- Shallows (pendangkalan). Aliran sungai menjadi lebih cepat dikarenakan adanya pedangkalan dasar sungai, ditandai dengan riak-riak kecil air.

C. Tingkat Kesulitan Sungai
Tingkat kesulitan sungai terbagi dari grade (kelas) I sampai grade VI, mulai dari ‘sungai mudah’ sampai tingkatan ‘sungai berbahaya’ (American White Water Affiliation (AWWAS)).
Kelas I (Easy)
Air sungai mengalir tenang dan kadang-kadang diiringi riam kecil. Jarang dijumpai rintangan seperti batu, pusaran air atau air terjun. Scouting (pengintaian) untuk menentukan lintasan tidak perlu dilakukan. Self rescue (menyelamatkan diri) sangat mudah untuk dilakukan.
Kelas II ( Novice)
Air sungai dengan ombak tidak terlalu tinggi. Jarak antar batu besar agak renggang. Scouting masih tidak perlu dilakukan. Self rescue masih mudah dilakukan.
Kelas III (Intermediate)
Riam-riam diiringi gelombang-gelombang yang tidak terduga. Manuver dibutuhkan untuk dapat menghindari batu atau hole. Scouting untuk menentukan lintasan sangat membantu bagi yang belum berpengalaman. Untuk yang sudah berpengalaman dapat melakukan scouting tanpa menghentikan perahu. Kadang-kadang team rescue harus siap siaga ditepi sungai. Self rescue masih dapat dilakukan.
Kelas IV ( Advance)
Jeram sulit dan sambung-menyambung. Gelombang air bisa mencapai 2 meter dengan variasi kelokan cukup tajam. Posisi batuan berdekatan dan cukup berbahaya dan arusnya liar. Scouting dan manuver cepat dan terlatih sangat diperlukan . Medan cukup potensial untuk kecelakaan. Self rescue sulit dilakukan dan tim rescue sangat perlu dalam pengarungan.
Kelas V (Expert)
Kesulitan tinggi mempunyai riam yang panjang dan liar serta sambung-menyambung. Arus lebih deras dengan jeram yang berbahaya ditambah batu-batu yang besar dan sungai yang sempit. Di butuhkan manuver rumit dan cepat agar dapat melaluinya. Self rescue tidak mungkin dilakukan, bila terjadi kecelakaan, river rescue sangat sulit untuk dilakukan meski oleh yang ahli. Scouting merupakan keharusan tapi sering kali sulit dilakukan.
Kelas VI (Extrime)
Kelas dengan kesulitan dan bahaya yang sangat ekstrim. River rescue tidak mungkin dapat dilakukan. Untuk pengarungan dibutuhkan persiapan ynag sangat cermat. Secara umum kelas ini tidak dianjurkan untuk diarungi.
Sungai pada kelas ini dapat dapat mengalami penurunan grade atau kelas menjadi kelas V apabila sungai ini telah berhasil diarungi secara aman. Setiap sungai memiliki banyak kelas tergantung keadaan karakteristik dan volume airnya.

III. Perlengkapan Arung Jeram

Perlengkapan merupakan salah satu persyaratan dalam kegiatan arung jeram. perlengkapan yang umum digunakan yaitu :

1. Perahu
Perahu dalam pengarungan haruslah tahan dari benturan dan abrasi (dari bahan sintetis antara serat nilon dengan EPDM (karet sintetis), PVC, Neoprene, dan Hypalon), perahu haruslah dapat mudah dikendalikan. Perahu yang biasanya digunakan dalam arung jeram saat ini memiliki sistem pengeluaran air sendiri (Self_Bailer) maksudnya lantai dari perahu diisi dengan udara dengan harapan lantai akan tetap mengapung diatas permukaan air sehingga dengan sendirinya air dapat keluar melalui lubang disekeliling perahu.
Berdasarkan bentuk, perahu dibedakan atas :
a. Perahu karet, perahu yang terbentuk dari tabung udara dan terbuat dari karet berserat. Dalam tabung terdapat sekat-sekat yang berbentuk sel atau ruangan yang terpisah, sehingga jika satu bagian bocor maka yang lain tidak akan terpengaruh. Perahu karet dikategorikan menjadi 2 tipe :
- Landing Craft Rubber (LCR). Perahuberbentuk seperti tapak kuda dan bagian belakang terdapat kayu.
- River Boat. Perahu berbentuk oval khusus untuk mengarungi arus deras.
b. Perahu lesung, dapat dibedakan menjadi 2 jenis :
- Kayak. Perahu dengan bentuk lancip pada bagian depan dan belakangnya.
- Canadian Canoe (kano). Perahu dengan bentuk sama seperti kayak, hanya lebih lebar.
c. Dorry (sampan), perahu bentuk lancip, terbuka dan lebih lebar dari canoe. Ukuran panjang 5,5 m dan lebar < 2 m.
d. Cataraft, perahu yang dibuat dari dua, tiga atau empat tabung karet berisi udara, disatukan dengan menggunakan frame dari kayu dan alumunium.
e. Inflatable, Perahu rakit yang dapat dipompa. Dapat digunakan dengan tenaga manusia atau dengan tenaga mesin (Inflatable boats). Digunakan untuk perairan laut atau danau.
2. Pompa. Berfungsi untuk memasukkan udara kedalam perahu. Pompa dibagi dalam pompa kaki dan pompa tangan.
3. Repair kit. Terdiri dari lem, benang, nylon, jarum jahit, dan bahan penambal.
4. Tali penyelamat (Rescue Rope). Berfungsi untuk menolong anggota tim yang terjatuh kesungai dan dapat berguna juga dalam linning saat scouting. Tali terbuat dari bahan nylon dengan warna mencolok agar dapat terlihat oleh korban, mempunyai daya apung yang tinggi.
5. Kantung kedap air ( Dry Bag). Kantong ini berguna untuk menyimpan kamera, obat-obatan, makanan dan benda-benda lain agar tidak basah.
6. Carabiner. Terbuat dari alumunium alloy, berguna untuk menghubungkan satu alat dengan alat lainnya. Misalnya, untuk mengaitkan throw bag pada pada D_ring (cincin metal berbentuk D yang menempel pada perahu).
7. Dayung. Berguna dalam manuver, mengatur gerakan perahu dan menambah serta mengurangi kecepatan perahu. Biasanya terbuat dari kayu, alumunium, fiberglass. Bagian dari dayung terdiri dari gagang tangkai (T-grip), tangkai dayung dan bilah (blade). Dayung yang biasa digunakan adalah dari jenis paddle raft satu lidah, panjangnya 140-180 cm ( normalnya berkisar antara 150-160 cm). Terbuat dari playwood atau kombinasi dari alumunium dengan fiberglass.
8. Helm. Penutup kepala berguna untuk melindungikepala bagian kening, pelipis, telinga, dan kepala bagian belakang dari benturan. Terbuat dari bahan tidak mudah pecah dan memiliki lubang-lubang kecil diatasnya.
9. Jaket Pelampung. Berguna untuk mengangkat tubuh, melindungi tubuh dari dingin dan bagian tubuh yang penting seperti dada, leher dan kepala bagian belakang dari benturan benda keras disungai.
Terdapat 2 jenis pelampung, Yaitu :
- Pelampung udara, mempunyai daya apung tinggi namaun kurang aman jika berbenturan dengan benda keras seperti batu.
- Pelampung padat, Terbuat dari spon, cukup tahan terhadap benturan namun jika terlalu lama terendam dalam air / basah maka daya apungnya akan berkurang. Pelampung ini cocok untuk kegiatan arung jeram.
10. P3K. Obat-obatan dan perlengkapan perawatan harus disesuaikan dengan medan yang diarungi , cuaca pada waktu pengarungan dan lain-lainnya.
11. Peluit. Digunakan sebagi pembantu dalam pemberian kode bahaya tertentu.

IV. Teknik Mendayung Dasar

Dayung terdiri dari 3 bagian yaitu blade / bilah, tangkai dayung, dan pegangan kayu (T-grip). Cara memegang dayung yang benar yaitu tangan yang satu (kiri atau kanan tergantung posisi di perahu) memegang pada pegangan dayung sedang tangan yang lain memegang tangkai dayungsekitar satu jengkal dari batas blade dengan tangkai. Posisi blade dibawah (yang bersentuhan dengan air) dan posisi pegangan berada sejajar di depan dada.
Empat teknik dasar mendayung :
a. Dayung Maju (Forward Stroke)
b.Dayung mundur (Backward Stroke)
c.Belok kiri
d.belok kanan
Dalam teknik mendayung dasar juga dikenal perintah “Dayung Cepat” atau “Dayung Kuat” sesuai dengan arah yang diinginkan. Tekniknya yaitu terletak pada titik berat tubuh, contohnya dayung maju kuat. Dayungan dimulai dengan membenamkan lidah dayung jauh ke depan dengan cara mencondongkan tubuh jauh kedepan lalu mendorong Pangkal pegangan dayung di ikuti gerakan tubuh kebelakang (pada dasarnya sama dengan dayung maju biasa).
Perintah lainnya seperti perintah “stop” atau “Berhenti” . Tekniknya yaitu berhenti mendayung dan mengeluarkan dayung dari dalam air lalu meletakkannya sejajar dengan paha atau sejajar dada. Perintah ini dimaksudkan agar pengontrolan perahu oleh skipper lebih mudah.

V . Self Rescue (Teknik Penyelamatan Diri)

Masalah yang sering terjadi adalah terlempar dari perahu dan berenang di jeram sungai, hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik baik anggota tim yang jatuh maupun yang berada diatas perahu atau yang akan menolong. Berikut beberapa teknik Self Rescue dalam kondisi kecelakan tertentu :
a. Berenang di Jeram
Hal yang perlu diingat dan dilakukan saat sedang berenang di jeram,yaitu :
1 . Tenang. Yakinkan diri bahwa pelampung kuat mengangkat tubuh anda ke permukaan air secepatnya.
2 . Jika anda muncul di bawah perahu, gunakan tangan anda untuk menggeser badan ke arah samping perahu.
3 . Jika kesulitan untuk naik ke atas perahu jangan ragu minta bantuan pada anggota tim lain yang berada diatas perahu untuk membantu.
4 . Jika tidak dapat kembali ke perahu secepatnya berenang dengan posisi duduk atau telentang, dengan kaki di usahakan sedekat mungkin dengan permukaan air, badan menghadap ke arah hilir sungai.
5 . Jika ada batu di depan, sambut dengan kaki, badan kemungkinan akan terputar. Setelah itu kembali ke posisi semula.
6 . Bila melihat jeram mulai kecil dan sedikit, berenanglah segera menuju ke tepi sungai atau bila ada eddies, berenaglah menuju ke eddies. Kemudian tunggulah hingga dijemput anggota tim lainnya.
Posisi telentang menghadap ke arah hilir sungai dengan kaki tetap berada di atas permukaan air dan pandangan selalu mengarah kedepan dimaksudkan agar kita dapat mengetahui rintangan yang ada di depan kita seperti batu strainer dan lain-lainnya, juga untuk menghindarkan diri dari kaki terjepit di celah batu.
Hal lainnya yaitu juga untuk membantu kita mengorientasi bagian depan sungai untuk antisipasi tindakan penyelamatan.
b. Perahu Terjebak (Wrap)
Perahu wrap di batu atau di dinding sungai yaitu keadaan dimana perahu terbentur batu / dinding, sedangkan arus kuat mendorong dari arah berlawanan. Jika sisi bagian hulu tertekan air dan tenggelam maka perahu akan melekat di batu / dinding. Cara melepaskan diri yaitu dengan teknik ‘Filp Line’ (jika Wrap ringan) yaitu dengan mendorong atau menarik perahu ke arah bagian batu yang tidak menyebabkan wrap, cara lain yaitu dengan teknik ‘Z-Drag’ (bila wrap berat) yaitu dengan mengempiskan salah satu katup tabung perahu.
Keadaan wrap ini dapat dihindari jika pada saat perahu akan membentur batu atau dinding anggota tim pindah posisi ke sisi yang berada pada sisi perahu yang akan menabrak batu /dinding. Akibatnya sisi bagian hulu (sisi perahu yang dikosongkan) akan terangkat sehingga arus kuat melewati bagian bawah perahu.
c. Perahu Terbalik
Keadaan ini bisa disebabkan ketika melewati dam, hole ataupun saat masuk eddies yang kuat dan besar.
Teknik dalam membalikkan perahu :
1. Bagi tugas anggota tim yang naik ke perahu yang terbalik dengan yang tetap berada di air sambil memegang erat perahu (pada D-ring atau pada Toat perahu)
2. Anggota tim yang diatas perahu memasangkan carabiner ke D-rig lalu mengikatnya dengan tali / webbing (sisi yang akan dibalik).
3. Lakukan pembalikkan perahu dengan menarik tali atau dengan bantuan T-grip dayung (terlebih dahulu dikaitkan dengan tali). Posisi pembalik perahu berada di bagian sisi yang menjadi tumpuan atau lawan dari sisi yang akan ditarik.
Anggota tim dibawah bersiap-siap (memegang erat toat perahu). Perahu dibalik dengan cara tali ditarik ke arah belakang yang didahului dengan hentakan keras hingga perahu oleng terbalik kembali.
4. Setelah perahu terbalik seperti semula, posisi anggota tim yang tadinya diatas perahu terbalik kini berada dibawah dan sebaliknya dengan anggota tim yang dibawah kini berada diatas perahu.
5. Anggota tim yang kini diatas membantu menaikkan anggota tim yang berada dibawah.
6. Selama dalam pembalikkan perahu diusahakan agar barang-barang tidak boleh hilang contohnya dayung.
Penggunaan peralatan penyelamat dan tali-temali (rescue rope)
Dalam self rescue juga digunakan alat bantuan dalam penyelamatan misalnya menggunakan rescue rope atau tali lempar ketika ada peserta yang hanyut, tertahan di hole, terperangkap di jeram, di atas batu, di eddies, ketika ada perahuyang wrap atau terjepit diantara batu.

VI. Teknik Pengarungan

Naluri
Pada keadaan darurat orang mempunyai reaksi berbeda. Jika dikelompokkan ada dua kelompok, sebagai berikut:
1. Orang-orang yang terlatih dan berpengalaman.
2. Orang yang masih awam, hanya bisa berdiri dengan mulut terbuka, mata melotot, berteriak memberi instruksi dengan tidak jelas.
Keahlian ini muncul dari latihan dan pengalaman yang terus-menerus dikembangkan. Mempelajari bahaya-bahaya di sungai, kerjasama tim, jam terbang, dll. Sebagian besar kecelakaan di sungai di sebabkan oleh persiapan yang kurang matang, perlengkapan tidak memadai, tidak mengerti karakteristik jeram.
Pengarahan Sebelum Pengarungan
Sebelum pengarungan yang terpenting adalah anggota tim mengerti apa yang harus dilakukannya. Untuk itu sebelum pengarungan, diperlukan pengarahan yang bersifat untuk memperjelas hal yang penting selama pengarungan, seperti : pembagian tanggung jawab P3K, alat rescue, makanan, tim darat, perahu pertama, perahu terakhir, alat reparasi, pompa, kapten tiap perahu, radio komunikasi, juru foto/video, menghindari tempat berbahaya seperti air terjun, dam, jeram besar, dll.
Persiapan Pengarungan
Sebelum melakukan pengarungan dapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sungai yang akan diarungi. Informasi tersebut dapat berupa :
1. Tempat awal atau start pengarungan
2. Akhir pengarungan.
3. Adakah pilihan lain jika waktu tidak memungkinkan
4. Berapa jarak dan waktu tempuh pengarungan
5. Berapa cadangan waktu jika ada kejadian yang tidak diinginkan
6. Berapa tingkat kesulitan sungai yang akan diarungi
7. Sampai berapa tingkat kesulitan sungai jika air sungai naik
8. Lokasi jeram-jeram besar dan tempat berbahaya berada
9. Dimana jalur evakuasi
10. Peta topografi wilayah pengarungan
11. Dimana telepon, rumah sakit, kantor polisi terdekat
Dalam suatu pengarungan sungai yang belum pernah diarungi atau sungai dengan level III atau lebih yang sudah lama tidak diarungi diharuskan dilakukan scouting. Kemudian direncanakan pengarungannya dan buat keputusan. Keputusan yang dibuat tergantung pada kesulitan jeram atau kemungkinan apa yang mungkin terjadi dan siapkan cara penanggulangannya.
Dalam pengarungan sungai diatas level III biasanya ditetapkan suatu sistem pengarungan garis (River Running System) dimana di dalam suatu pengarungan menggunakan dua atau lebih perahu, maksudnya perahu yang satu dengan perahu yang lainnya saling menjaga. Cara ini juga merupakan persyaratan dalam suatu ekspedisi sungai. Dalam pengarungan ada dua perahu yang berperan penting, yaitu :
1. Perahu Pertama (Lead Boat)
Perahu dikemudikan oleh pemandu atau skipper yang cukup handal karena pemandu ini bertugas membuka jalur dan menjaga perahu yang ada dibelakangnya
2. Perahu Terakhir (Sweep Boat)
Perahu ini dikemudikan oleh skipper terbaik (biasanya juga sebagai Trip Leader atau pemimpin pengarungan). Skipper ini bertanggung jawab atas semua kejadiaan atau masalah yang terjadi dalam pengarungan dan membawa semua peralatan penting dalam pengarungan seperti pompa, P3K, repair kit, dan sebagainya.
Dalam sistem ini yang penting dilakukan antar perahu adalah saling menunggu. Maksudnya adalah untuk memastikan bahwa perahu yang dibelakang ada yang menjaga. Dalam mengarungi sungai yang belum pernah diarungi atau suatu ekspedisi harus selalu berhenti sebelum jeram untuk scouting dan merencanakan pengarungan dan berhenti pula sesudah jeram untuk menjaga perahu yang lain yang akan mengarungi jeram tersebut.
Pembacaan Jeram
Dalam suatu pengarungan di sungai seperti yang disebut diatas yaitu sungai diatas level III atau sungai yang belum pernah diarungi, pembacaan jeram sangat diperlukan untuk merencanakan pengarungan. Pembacaan jeram ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Read and Run
Membaca jeram dari atas perahu dam keadaan berjalan. Maksudnya ketika menuju hilir dan mengenali jenis bahaya apa saja yang ada di jeram dan mencari jalur yang baik untuk dilewati.
2. Scouting
Membaca jeram dari pinggir sungai dengan cara menghentikan perahu terlebih dahulu dan berjalan kaki menyusur daerah pinggir sungai sambil mengamati karakteristik jeram di daerah tersebut.
Apabila jeram tersebut terlalu bahaya untuk dilalui maka hal yang perlu dilakukan untuk melanjutkan pengarungan yaitu :
a. Linning, semua peserta berjalan kaki di pinggir sungai, perahu dituntun dengan tali melalui tepian sungai.
b. Portaging, apabila medan atau lokasi sulit untuk melakukan linning seperti sungai bertebing. Hal yang dilakukan yaitu dengan berjalan kaki dengan perahu diangkat ,baik dengan terlebih dahulu mengempeskan perahu atau tanpa mengempeskan perahu.
Dari semua teknik pengarungan , setiap pengarungan diperlukan seorang pimpinan perjalanan yang bersifat tegas bijaksan dan berpengalaman dalam mengambil keputusan. Hal lainnya yang perlu diingat adalah hilangkan sikap ego diri sendiri dalam setiap pengarungan. Kita harus jujur pada diri sendiri apakah mampu atau takut melalui jeram atau rintangan sungai yang sulit dan berbahaya. Dalam hal ini kita harus bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan untuk menghadapi resiko yang akan muncul. Dan jika ragu-ragu untuk mengambil keputusan, akan lebih baik jika kita berani mengatakan “TIDAK !!!”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

NAVIGASI DARAT (NAD)

Navigasi adalah suatu tehnik untuk menentukan kedudukan suatu tempat dan arah lintasan perjalanan secara tepat. Sedangkan orang yang melakukan disebut Navigator. Pada dasarnya navigasi digunakan dalam hal pelayaran atau penerbangan. Penambahan kata dalam mengelompokkan jenis navigasi ada beberapa macam menurut penggunaanya.
NAVIGASI DARAT
Navigasi darat adalah suatu cara seseorang untuk menentukan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta,
dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang kompas dan peta serta teknik penggunaannya haruslah dimiliki dan dipahami.

PETA
Secara umum, peta adalah penggambaran dua dimensi(pada bidang datar) keseluruhan atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan perbandingan/skala tertentu. Peta sendiri, kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya.
Peta menurut jenisnya, Yaitu :
1.Peta Geografis
Menyajikan gambaran proyeksi dari seluruh permukaan fisik bumi.
Ex : Atlas, Globe.
2.Peta Topografi
Menyajikan gambaran proyeksi dari bagian permukaan fisik bumi..
Ex : Peta Indonesia, Peta G. Merbabu
Peta ini Berskala 1 : 25.000 – 1 : 250.000
3.Peta Tekhnis
Menyajikan gambaran proyeksi permukaan fisik bumi untuk menunjang kebutuhan-kebutuhan tekhnik tertentu.
Ex : Peta jaringan jalan raya, Peta Jaringan rel kereta api
Peta ini Berskala 1 : 25.000
4.Peta Tematik
Menyajikan data dan informasi yang mempunyai tema tertentu. Sehubungan dengan kedudukan geografisnya.
Ex : Peta kepadatan penduduk Indonesia
Untuk keperluan navigasi darat umumnya digunakan peta topografi.
Peta Topografi
Berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan graphi yang berarti menggambar. Peta topografi memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Walaupun peta topografi memetakan tiap interval ketinggian tertentu, namun disertakan pula berbagai keterangan pula yang akan membantu untuk mengetahui secara lebih jauh mengenai daerah permukaan bumi yang terpetakan tersebut, keterangan-keterangan itu disebut legenda peta.
Legenda peta antara lain berisi tentang :
a. Judul Peta
Judul peta ada dibagian tengah atas. judul peta menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan, sehingga lokasi yang berbeda akan mempunyai judul yang berbeda pula
b. Nomor Peta
Nomor peta biasanya dicantumkan diselah kanan atas peta. Selain sebagai nomor regisrtasi dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk jika kita memerlukan peta daerah lain disekitar suatu daerah yang terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan pula lembar derajat yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada disekeliling peta tersebut.
c. Koordinat Peta
Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua, yaitu :
1. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus terhadap katulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan katulistiwa. Koodinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit, dan detik.
2. Koordinat Grid
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan nol terdapat disebelah barat Jakarta (60 derajat LU, 68 derajat BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan garis horizontal diberi nomor urut dari barat ke timur.
Sistem koordinat mengenal penomoran dengan 6 angka, 8 angka dan 10 angka. Untuk daerah yang luas dipakai penomoran 6 angka, untuk daerah yang lebih sempit digunakan penomoran 8 angka dan 10 angka (biasanya 10 angka dihasilkan oleh GPS).
d. Kontur
Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan laut, sifat-sifat garis kontur adalah
1. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
2. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi.
3. Garis kontur tidak berpotongan dan tidak bercabang.
4. Interval kontur biasanya 1/2000 kali skala peta.
5. Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan permukaan bumi yang curam/terjal, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang landai.
6. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung.
7. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “V” terbalik menandakan suatu lembah/jurang.
e. Skala
Skala peta adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak horizontal di lapangan. C penulisan skala, yaitu :
1. Skala angka, contoh : 1:25.000 berarti 1 cm jarak dipeta = 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di medan sebenarnya.
2. Skala garis, contoh: berarti tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1 km jarak horizontal.
f. Legenda
Legenda peta biasanya disertakan pada bagian bawah peta. Legenda ini memuat simbol-simbol yang dipakai pada peta tersebut, yang penting diketahui : triangulasi, jalan setapak, jalan raya, sungai, pemukiman, ladang, sawah, hutan dan lainnya. Di Indonesia, peta yang umumnya digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, kemudian peta dari Jawatan Topologi, atau yang sering disebut peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.
g. Tahun Peta
Peta topografi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta tersebut, semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan semakin akurat.
h. Arah Peta
Yang perlu diperhatikan adalah arah Utara Peta. Cara paling mudah adalah dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah Arah Utara Peta.Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat petunjuk arah utara yaitu :
1. Utara sebenarnya/True North : yaitu utara yang mengarah pada kutub utara bumi.
2. Utara Magnetis/Magnetic North : yaitu utara yang ditunjuk oleh jarum magnetis kompas, dan letaknya tidak tepat di kutub utara bumi.
3. Utara Peta/Map North : yaitu arah utara yang terdapat pada peta.
Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi. Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, untuk keperluan yang menuntut ketelitian perlu dipertimbambangkan adanya iktilaf(deklinasi) peta, iktilaf magnetis, iktilaf peta magnetis, dan variasi magnetis.
Pengertian umum lainnya
1. Deklinasi Peta : adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta.
2. Deklinasi Magnetis: Selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis
3. Deklinasi Peta magnetis:Selisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi.
4. variasi Magnetis:perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun. \
Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat
Kadangkala kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus dapat menentukan ketinggian suatu tempat,akan tetapi kita tidak mempunyai alat untuk menentukan ketinggian(altimeter), hal itu dapat diatasi dengan cara :
Lihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin kita ketahui, memang ada rumusan umum interval kontur= 1/2000 skala peta. tetapim rumus ini tidak selalu benar, beberapa peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000 (interval kontur 25 m), tetapi kemudian diperbesar menjadi berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.
Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya SAR gunung hutan, sering kali peta diperbanyak dengan cara di foto kopi. Untuk itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250 meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter. peta keluaran Direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.
Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara :
1. Cari 2 titik berdekatan yang harganya tercantum
2. Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah).
3. Dengan mengetahui selisih ketinggian kedua titik tersebut dan mengetahui juga jumlah kontur yang didapat, dapat dihitung berapa interval konturnya (harus merupakan bilangan bulat).
4. Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada diatas titik, maka harga kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. bila kontur terletak dibagian bawah, harganya lebih kecil). Hitung harga kontuir terdekat itu yang harus merupakan kelipatan dari harga interval kontur yang telah diketahui dari no 3. lakukan perhitungan diatas beberapa kali sampai yakin harga yang didapat untuk setiap kontur benar. Cantumkan harga beberapa kontur pada peta anda agar mudah mengingatnya.

KOMPAS
1. Guna Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah yang digunakan untuk mengetahui arah utara magnetis. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan menunjuk arah utara-selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah utara magnet bumi, jadi bukan arah utara sebenarnya.
Secara fisik, kompas terdiri atas : a) Badan, yaitu tempat komponen-komponen kompas lainnya berada; b) Jarum, selalu mengarah ke utara-selatan bagaimanapun posisinya; c) Skala penunjuk, menunjukkan derajat sistem mata angin.
2. Jenis-Jenis Kompas,
dalam suatu perjalanan banyak macam kompas yang dapat dipakai, pada umumnya dipakai dua jenis kompas, yaitu kompas bidik (misalnya kompas prisma) dan kompas orienteering (misalnya kompas silva). Kompas bidik mudah untuk membidik, tetapi dalam pembacaan di peta perlu dilengkapi dengan busur derajat dan penggaris. Kompas silva kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan di peta. Kompas yang baik pada ujungnya dilapisi fosfor agar dapat terlihat dalam keadaan gelap.
3. Pemakaian Kompas,
kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh benda-benda yang mengandung logam, seperti pisau, golok, karabiner, jam tangan dan lainnya. Kehadiran benda-benda tersebut akan mempengaruhi jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang.
4. Altimeter
altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan posisi.
Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih bermanfaat. Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta, altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter :
setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti.

Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan temperatur.
Teknik Penggunaan Peta Dan Kompas

1. Orientasi peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis menyamakan utara peta dengan utara magnetis). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bikit, sungai, atau tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan dengan gambar kontur yang ada dipeta, untuk keperluan praktis, utara magnetis dianggap sejajar dengan utara sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi peta :
a)Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok;
b)Letakkan peta pada bidang datar;
c)Letakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
d)Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan.
e)Ingat tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan yang khas dari setiap tanda medan.

2. Azimuth dan Back Azimuth
Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran yang kita tuju,azimuth juga sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum jam. Ada tiga macam azimuth yaitu :
a) Azimuth Sebenarnya,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran;
b) Azimuth Magnetis,yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran;
c) Azimuth Peta,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.
back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara menghitungnya : bila sudut azimuth lebih dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth kurang dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat atau 360 derajat.

3. Resection
Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak selalu tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang dibidik. Langkah-langkah resection :
a)Lakukan orientasi peta;
b)Cari tanda medan yang mudah dikenali dilapangan dan di peta, minimal dua buah;
c)Dengan penggaris buat salib sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu;
d)Bidik dengan kompas tanda-tanda medan itu dari posisi kita,sudut bidikan dari kompas itu disebut azimuth;
e)pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta, dan hitung sudut pelurusnya;
f)Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita di peta

4. Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita sudah yakin pada posisi kita di peta. Langkah-langkah melakukan intersection :
a)lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita;
b)bidik obyek yang kita amati;
c)pindahkan sudut yang kita dapat dipeta;
d)bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, lakukan langkah b dan c;
e)perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

Orientasi medan tanpa peta dan kompas
Bila kita berada di alam bebas tanpa membawa peta dan kompas, kita dapat menggunakan tanda‑tanda alam untuk menunjukkan arah perjalanan kita, diantaranya adalah
a. Matahari, Hanya dapat digunakan pada slang hari, yaitu mengetahui arah barat dan timur,
b. Bintang ,Pada malam hari dapat menggunakan bintang untuk mengetahui arah perjalanan kita, antara lain
Bintang Pari menunjukkan arah selatan Bintang Orion menunjukkan arah timur dan barat c. Tanda‑tanda lain Tanda‑tanda lain yang dapat digunakan antara lain Kuburan orang Islam membujur kearah utara ‑ selatan Masjid menghadap kearah barat – timur

TEKNIK CONTOURING
Contouring dapat diartikan dengan salah satu penerapan ilmu medan peta yaitu menempuh perjalanan tanpa menggunakan kompas. Dalam melakukan teknik contouring dituntut untuk lebih teliti dalam pengamatan medan. Karena jika kita sudah salah menentukan posisi dengan contouring maka akan mempersuli perjalanan kita dan mungkin akan tersesat.
Jika kita di lapangan dengan membawa peta maka teknik contouring dapat dilakukan, dengan mengamati bentukan dengan acuan arah KAKIBATAS (Kanan, Kiri, Bawah, Atas). Tanda‑tanda medan yang dapat digunakan adalah
+ Puncak-puncak bukit
+ Bentukan sungai
+ Punggungan bukit dan terjal/landainya bukit
+ Percabangan sungai
+ Patahan tebing
+ Waterfall (air terjun)
Untuk selalu dapat berhasil melakukan teknik ini adalah dengan selalu berlatih di lapangan yang sebenarnya. Yang perlu dicamkan adalah :”Tentukan secara pasti titik awal keberangkatan, menghitung jarak tempuh dan selalu menghitung ,sudah berapa kali kita menyeberangi sungai atau lembah atau berpindah punggungan bukit”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS