Navigasi adalah suatu tehnik untuk menentukan kedudukan suatu tempat
dan arah lintasan perjalanan secara tepat. Sedangkan orang yang
melakukan disebut Navigator. Pada dasarnya navigasi digunakan dalam hal
pelayaran atau penerbangan. Penambahan kata dalam mengelompokkan jenis
navigasi ada beberapa macam menurut penggunaanya.
NAVIGASI DARAT
Navigasi darat adalah suatu cara seseorang untuk menentukan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta,
dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang kompas dan peta serta teknik penggunaannya haruslah dimiliki dan dipahami.
PETA
Secara umum, peta adalah penggambaran dua dimensi(pada bidang datar)
keseluruhan atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan
perbandingan/skala tertentu. Peta sendiri, kemudian berkembang sesuai
dengan kebutuhan dan penggunaannya.
Peta menurut jenisnya, Yaitu :
1.Peta Geografis
Menyajikan gambaran proyeksi dari seluruh permukaan fisik bumi.
Ex : Atlas, Globe.
2.Peta Topografi
Menyajikan gambaran proyeksi dari bagian permukaan fisik bumi..
Ex : Peta Indonesia, Peta G. Merbabu
Peta ini Berskala 1 : 25.000 – 1 : 250.000
3.Peta Tekhnis
Menyajikan gambaran proyeksi permukaan fisik bumi untuk menunjang kebutuhan-kebutuhan tekhnik tertentu.
Ex : Peta jaringan jalan raya, Peta Jaringan rel kereta api
Peta ini Berskala 1 : 25.000
4.Peta Tematik
Menyajikan data dan informasi yang mempunyai tema tertentu. Sehubungan dengan kedudukan geografisnya.
Ex : Peta kepadatan penduduk Indonesia
Untuk keperluan navigasi darat umumnya digunakan peta topografi.
Peta Topografi
Berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan graphi yang
berarti menggambar. Peta topografi memetakan tempat-tempat dipermukaan
bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk
garis-garis kontur, dengan satu garis kontur mewakili satu ketinggian.
Walaupun peta topografi memetakan tiap interval ketinggian tertentu,
namun disertakan pula berbagai keterangan pula yang akan membantu untuk
mengetahui secara lebih jauh mengenai daerah permukaan bumi yang
terpetakan tersebut, keterangan-keterangan itu disebut legenda peta.
Legenda peta antara lain berisi tentang :
a. Judul Peta
Judul peta ada dibagian tengah atas. judul peta menyatakan lokasi yang
ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan, sehingga lokasi yang berbeda
akan mempunyai judul yang berbeda pula
b. Nomor Peta
Nomor peta biasanya dicantumkan diselah kanan atas peta. Selain sebagai
nomor regisrtasi dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai
petunjuk jika kita memerlukan peta daerah lain disekitar suatu daerah
yang terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan pula lembar derajat
yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada disekeliling peta tersebut.
c. Koordinat Peta
Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan
dengan menggunakan sistem sumbu, yaitu garis-garis yang saling
berpotongan tegak lurus. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua,
yaitu :
1. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur)
yang tegak lurus terhadap katulistiwa, dan garis lintang (lintang utara
dan lintang selatan) yang sejajar dengan katulistiwa. Koodinat geografis
dinyatakan dalam satuan derajat, menit, dan detik.
2. Koordinat Grid
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran
jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan
nol terdapat disebelah barat Jakarta (60 derajat LU, 68 derajat BT).
Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan garis
horizontal diberi nomor urut dari barat ke timur.
Sistem koordinat mengenal penomoran dengan 6 angka, 8 angka dan 10
angka. Untuk daerah yang luas dipakai penomoran 6 angka, untuk daerah
yang lebih sempit digunakan penomoran 8 angka dan 10 angka (biasanya 10
angka dihasilkan oleh GPS).
d. Kontur
Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang
berketinggian sama dari permukaan laut, sifat-sifat garis kontur adalah
1. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
2. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi.
3. Garis kontur tidak berpotongan dan tidak bercabang.
4. Interval kontur biasanya 1/2000 kali skala peta.
5. Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan permukaan bumi yang
curam/terjal, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang
landai.
6. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung.
7. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “V” terbalik menandakan suatu lembah/jurang.
e. Skala
Skala peta adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak horizontal di lapangan. C penulisan skala, yaitu :
1. Skala angka, contoh : 1:25.000 berarti 1 cm jarak dipeta = 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di medan sebenarnya.
2. Skala garis, contoh: berarti tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1 km jarak horizontal.
f. Legenda
Legenda peta biasanya disertakan pada bagian bawah peta. Legenda ini
memuat simbol-simbol yang dipakai pada peta tersebut, yang penting
diketahui : triangulasi, jalan setapak, jalan raya, sungai, pemukiman,
ladang, sawah, hutan dan lainnya. Di Indonesia, peta yang umumnya
digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, kemudian peta
dari Jawatan Topologi, atau yang sering disebut peta AMS (American Map
Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960.
Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar
kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan
Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala
1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran
Bakosurtanal biasanya berwarna.
g. Tahun Peta
Peta topografi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta
tersebut, semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan
semakin akurat.
h. Arah Peta
Yang perlu diperhatikan adalah arah Utara Peta. Cara paling mudah adalah
dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah
atas tulisan adalah Arah Utara Peta.Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat petunjuk arah utara yaitu :
1. Utara sebenarnya/True North : yaitu utara yang mengarah pada kutub utara bumi.
2. Utara Magnetis/Magnetic North : yaitu utara yang ditunjuk oleh jarum
magnetis kompas, dan letaknya tidak tepat di kutub utara bumi.
3. Utara Peta/Map North : yaitu arah utara yang terdapat pada peta.
Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara
bumi. Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub magnetis bumi bergeser
dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, untuk keperluan yang menuntut
ketelitian perlu dipertimbambangkan adanya iktilaf(deklinasi) peta,
iktilaf magnetis, iktilaf peta magnetis, dan variasi magnetis.
Pengertian umum lainnya
1. Deklinasi Peta : adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara
peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi
menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta.
2. Deklinasi Magnetis: Selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis
3. Deklinasi Peta magnetis:Selisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi.
4. variasi Magnetis:perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun. \
Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat
Kadangkala kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus dapat
menentukan ketinggian suatu tempat,akan tetapi kita tidak mempunyai alat
untuk menentukan ketinggian(altimeter), hal itu dapat diatasi dengan
cara :
Lihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang
ingin kita ketahui, memang ada rumusan umum interval kontur= 1/2000
skala peta. tetapim rumus ini tidak selalu benar, beberapa peta
topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000
(interval kontur 25 m), tetapi kemudian diperbesar menjadi berskala
1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.
Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya SAR gunung hutan,
sering kali peta diperbanyak dengan cara di foto kopi. Untuk itu,
interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran
Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250
meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala
1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter.
peta keluaran Direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan
ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada ketentuan khusus
dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.
Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara :
1. Cari 2 titik berdekatan yang harganya tercantum
2. Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa
kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama
harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah).
3. Dengan mengetahui selisih ketinggian kedua titik tersebut dan
mengetahui juga jumlah kontur yang didapat, dapat dihitung berapa
interval konturnya (harus merupakan bilangan bulat).
4. Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur
terdekat itu berada diatas titik, maka harga kontur itu lebih besar
dari titik ketinggian. bila kontur terletak dibagian bawah, harganya
lebih kecil). Hitung harga kontuir terdekat itu yang harus merupakan
kelipatan dari harga interval kontur yang telah diketahui dari no 3.
lakukan perhitungan diatas beberapa kali sampai yakin harga yang didapat
untuk setiap kontur benar. Cantumkan harga beberapa kontur pada peta
anda agar mudah mengingatnya.
KOMPAS
1. Guna Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah yang digunakan untuk mengetahui arah
utara magnetis. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan menunjuk
arah utara-selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet
lainnya selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat bahwa arah yang
ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah utara magnet bumi, jadi
bukan arah utara sebenarnya.
Secara fisik, kompas terdiri atas : a) Badan, yaitu tempat
komponen-komponen kompas lainnya berada; b) Jarum, selalu mengarah ke
utara-selatan bagaimanapun posisinya; c) Skala penunjuk, menunjukkan
derajat sistem mata angin.
2. Jenis-Jenis Kompas,
dalam suatu perjalanan banyak macam kompas yang dapat dipakai, pada
umumnya dipakai dua jenis kompas, yaitu kompas bidik (misalnya kompas
prisma) dan kompas orienteering (misalnya kompas silva). Kompas bidik
mudah untuk membidik, tetapi dalam pembacaan di peta perlu dilengkapi
dengan busur derajat dan penggaris. Kompas silva kurang akurat jika
dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan
perhitungan di peta. Kompas yang baik pada ujungnya dilapisi fosfor agar
dapat terlihat dalam keadaan gelap.
3. Pemakaian Kompas,
kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan
magnet bumi. Dalam memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh
benda-benda yang mengandung logam, seperti pisau, golok, karabiner, jam
tangan dan lainnya. Kehadiran benda-benda tersebut akan mempengaruhi
jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang.
4. Altimeter
altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan posisi.
Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas
sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih bermanfaat. Dengan
menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta, altimeter
akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam
pemakaian altimeter :
setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti.
Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan temperatur.
Teknik Penggunaan Peta Dan Kompas
1. Orientasi peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya
(secara praktis menyamakan utara peta dengan utara magnetis). Untuk
keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada
dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat
nama-nama gunung, bikit, sungai, atau tanda-tanda medan lainnya, atau
dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan
dengan gambar kontur yang ada dipeta, untuk keperluan praktis, utara
magnetis dianggap sejajar dengan utara sebenarnya, tanpa memperlitungkan
adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi peta :
a)Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok;
b)Letakkan peta pada bidang datar;
c)Letakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta
dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian letak peta akan
sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
d)Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling dan temukan
tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan.
e)Ingat tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya dimedan sebenarnya
maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan yang khas dari setiap tanda
medan.
2. Azimuth dan Back Azimuth
Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan
titik/sasaran yang kita tuju,azimuth juga sering disebut sudut kompas,
perhitungan searah jarum jam. Ada tiga macam azimuth yaitu :
a) Azimuth Sebenarnya,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran;
b) Azimuth Magnetis,yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran;
c) Azimuth Peta,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.
back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara
menghitungnya : bila sudut azimuth lebih dari 180 derajat maka sudut
azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth kurang dari 180
derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth =
180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat atau 360 derajat.
3. Resection
Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan
dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan
bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak selalu
tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai,
sepanjang jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu satu
tanda medan lainnya yang dibidik. Langkah-langkah resection :
a)Lakukan orientasi peta;
b)Cari tanda medan yang mudah dikenali dilapangan dan di peta, minimal dua buah;
c)Dengan penggaris buat salib sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu;
d)Bidik dengan kompas tanda-tanda medan itu dari posisi kita,sudut bidikan dari kompas itu disebut azimuth;
e)pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta, dan hitung sudut pelurusnya;
f)Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita di peta
4. Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di
peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali
dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan
posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai.
Pada intersection, kita sudah yakin pada posisi kita di peta.
Langkah-langkah melakukan intersection :
a)lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita;
b)bidik obyek yang kita amati;
c)pindahkan sudut yang kita dapat dipeta;
d)bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, lakukan langkah b dan c;
e)perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.
Orientasi medan tanpa peta dan kompas
Bila kita berada di alam bebas tanpa membawa peta dan kompas, kita dapat
menggunakan tanda‑tanda alam untuk menunjukkan arah perjalanan kita,
diantaranya adalah
a. Matahari, Hanya dapat digunakan pada slang hari, yaitu mengetahui arah barat dan timur,
b. Bintang ,Pada malam hari dapat menggunakan bintang untuk mengetahui arah perjalanan kita, antara lain
Bintang Pari menunjukkan arah selatan Bintang Orion menunjukkan arah
timur dan barat c. Tanda‑tanda lain Tanda‑tanda lain yang dapat
digunakan antara lain Kuburan orang Islam membujur kearah utara ‑
selatan Masjid menghadap kearah barat – timur
TEKNIK CONTOURING
Contouring dapat diartikan dengan salah satu penerapan ilmu medan peta
yaitu menempuh perjalanan tanpa menggunakan kompas. Dalam melakukan
teknik contouring dituntut untuk lebih teliti dalam pengamatan medan.
Karena jika kita sudah salah menentukan posisi dengan contouring maka
akan mempersuli perjalanan kita dan mungkin akan tersesat.
Jika kita di lapangan dengan membawa peta maka teknik contouring dapat
dilakukan, dengan mengamati bentukan dengan acuan arah KAKIBATAS (Kanan,
Kiri, Bawah, Atas). Tanda‑tanda medan yang dapat digunakan adalah
+ Puncak-puncak bukit
+ Bentukan sungai
+ Punggungan bukit dan terjal/landainya bukit
+ Percabangan sungai
+ Patahan tebing
+ Waterfall (air terjun)
Untuk selalu dapat berhasil melakukan teknik ini adalah dengan selalu
berlatih di lapangan yang sebenarnya. Yang perlu dicamkan adalah
:”Tentukan secara pasti titik awal keberangkatan, menghitung jarak
tempuh dan selalu menghitung ,sudah berapa kali kita menyeberangi sungai
atau lembah atau berpindah punggungan bukit”.
NAVIGASI DARAT (NAD)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar