HOME
PROFIL
GALERI
grosvenor. Diberdayakan oleh Blogger.
Journey to Create the History
RSS

DIALEKTIKA ANTARA LOGIKA DAN ETIKA



Manusia dan Alam Semesta merupakan Dialektika Keberagaman antara Logika dan Etika.

Alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx. Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Misalnya, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie, filosof materialis George Politzer mengatakan bahwa “alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan” dan menambahkan: “Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan”. Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Namun, sains dan teknologi yang berkembang di abad 20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.

Manusia sesungguhnya memiliki bentuk kesadaran dan pikiran yang sangat luar biasa dalam memahami dan menganalisa  gambaran-gambaran mengenai proses dan bentuk penciptaan manusia dan alam semesta. Untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx, persoalannya adalah "bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya dan terikat pada premis-premis(dalil) material. Jadi, moralitas, agama, metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas, agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah, tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi material dan hubungan material mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi riil mereka – pemikiran dan produk-produk pemikiran mereka. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Dalam metode pendekatan pertama (non materialis), titik mulanya adalah kesadaran yang dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis), yang menyesuaikan diri (terhadap keadaanmaterial) adalah individu-individu hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran mereka."

Pada hakikatnya manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan, alam semesta memproses terjadinya perubahan pada permukaan bumi yang semakin lama semakin muncul perubahannya. Sedangkan manusia disibukkan dengan aktivitas dan pemikiran-pemikiran yang membuktikan suatu kebenaran dan logika mengenai perkembangan dan perubahan keberadaan bentuk bumi sesungguhnya. Ilmuwan-ilmuwan alam dengan etika yang dimilikinya mengeluarkan kemampuan mereka untuk memikirkan kontradiksi yang tercipta  dari suatu bumi. masih dapat disangsikan apakah mayoritas ilmuwan-ilmuwan alam akan begitu cepat menyadari kontradiksi dari suatu bumi yang berubah padahal dianggap mengandung organisme-organisme kekal (immutable = tidak berubah-ubah), seandainya menyingsingnya konsepsi bahwa alam tidak saja ada, melainkan telah menjadi berada dan menjadi tidak berada, tidak mendapatkan dukungan dari suatu sumber lain. Geologi telah bangkit dan menunjukkan bahwa, lapisan-lapisan bumi tidak saja terbentuk secara berurutan dan didepositkan satu di atas yang lainnya, melainkan juga kulit-kulit (selongsong) dan kerangka-kerangka tulang binatang-binatang yang sudah punah dan pokok-pokok batang, dedaunan dan buah-buahan tanaman-tanaman yang sudah tiada lagi yang terkandung dalam lapisan-lapisan itu. Orang harus menetapkan pikirannya untuk mengakui bahwa tidak hanya bumi sebagai suatu keutuhan, melainkan juga permukaannya yang sekarang dan tanaman-tanaman dan binatang-binatang yang hidup di atasnya memiliki suatu sejarah dalam waktu. Mula-mula pengakuan itu terjadi dengan penuh keengganan. Teori Cuvier mengenai putaran-putaran (revolutions) bumi adalah revolusioner dalam kata-kata dan reaksioner dalam isinya. Gantinya suatu penciptaan adikodrati tunggal diajukannya suatu deretan penuh tindakan-tindakan penciptaan yang berulang-ulang, menjadikan keajaiban suatu pengungkit hakiki dari alam. Lyell mula-mula menjadikan geologi dapat dimengerti dengan menggantikan revolusi-revolusi dadakan karena suasana-suasana (-hati) sang pencipta dengan efek-efek berangsur-angsur dari suatu transformasi lamban dari bumi.

Seringkali manusia mendoktrin alam semesta dalam segala bentuk, banyak pemikiran-pemikiran atau ilmu-ilmu pengetahuan mengenai antarketerkaitan-antarketerkaitan (inter-connections), berlawanan dengan metafisika. hukum-hukum dialektika diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat manusia. Karena hukum-hukum itu tidak lain yalah hukum-hukum yang paling umum dari kedua aspek perkembangan historikal, maupun dari pikiran itu sendiri. Dalam gaya idealis yang di kembangkan oleh Hegel sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama, dalam bagian pertama karyanya Logic, dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being); yang kedua mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic, Doktrin mengenai Hakekat (Essence); akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang- bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum ini disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, dan tidak dideduksi dari situ. Inilah sumber dari seluruh pendekatan yang dipaksakan dan seringkali melampaui batas (keterlaluan); semesta-alam, mau-tidak-mau, mesti bersesuaian dengan sebuah sistem pikiran yang sendiri cuma produk dari suatu tahap tertentu dari evolusi pikiran manusia. Jika kita membalikkan semuanya itu, maka segala sesuatu menjadi sederhana, dan hukum-hukum dialektika yang tampak begitu luar-biasa misterius dalam filsafat idealis seketika menjadi sederhana dan jelas seperti siang-hari bolong.

Alam semesta dan manusia merupakan misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang. Keduanya memiliki korelasi yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Proses simbiosis mutualisme yang terjadi antara alam semesta dan manusia akan terus berlangsung selama manusia memperlakukan alam sewajarnya. Manusia dengan logika dan etika mencoba membuka dan memecahkan segala kebenaran yang tekandung pada penciptaan alam semesta. Dengan kesibukkan mereka yang hanya dapat berfikir tanpa memberikan solusi yang secara tidak langsung menyebabkan eksploitasi alam yang banyak terjadi telah menyebabkan ketidakseimbangan alam itu sendiri (Nature Imbalance) sehingga keberadaan dan keadaaan alam tidak dapat diprediksikan. Pemanasan global, Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan dan Bencana alam lainnya adalah akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. Pertanyaan mendasar yang harus kita pikirkan sekarang adalah Apakah hari ini kita tergolong orang-orang yang melakukan perbaikan terhadap alam, ataukah sebaliknya? Terkadang kita hanya disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya tidak memberikan kontribusi yang baik terhadap alam, walaupun dengan secara nyata kita mengkaji tentang kebenaran alam semesta. Janganlah kita hanya berpangku tangan, marilah kita berbuat sesuatu terhadap alam ini!
Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat manusia yang mempunyai daya nalar serta pola pikir yang lebih dibanding masyarakat lain pada umumnya dituntut untuk lebih siap baik mental maupun fisik, manakala mereka terjun kedalam kehidupan bermasyarakat yang harus mengaplikasikan sikapnya dengan melibatkan masyarakat dan alam (Lingkungan Sekitar) sebagai salah satu sarananya. Karena itu,  hal yang sangat baik untuk menciptakan sebuah pemikiran antara keseimbangan manusia dan alam semesta yang merupakan dialektika keberagaman antara logika dan etika yang benar-benar seimbang yang dapat memberikan kontibusi baik itu terhadap masyarakat manusia maupun alam semesta. 

GVR.I.110113.001.PLR

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar