Manusia
dan Alam Semesta merupakan Dialektika Keberagaman antara Logika dan Etika.
Alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx. Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Misalnya, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie, filosof materialis George Politzer mengatakan bahwa “alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan” dan menambahkan: “Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan”. Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Namun, sains dan teknologi yang berkembang di abad 20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.
Manusia
sesungguhnya memiliki bentuk kesadaran dan pikiran yang sangat luar biasa dalam
memahami dan menganalisa
gambaran-gambaran mengenai proses dan bentuk penciptaan manusia dan alam
semesta. Untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat
manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx, persoalannya adalah "bukan
berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia…
agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan
berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan
riil manusia yang menunjukkan perkembangan refleks-refleks dan gaungan-gaungan
ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan yang terbentuk dalam
otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari proses-kehidupan material, yang
secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya dan terikat pada
premis-premis(dalil) material. Jadi, moralitas, agama, metafisika, dan segala
macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang berhubungan (serupa) dengan
itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas, agama, metafisika, dan segala
macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah, tidak memiliki perkembangan;
tetapi manusia, yang mengembangkan produksi material dan hubungan material
mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi riil mereka – pemikiran dan produk-produk
pemikiran mereka. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran
ditentukan oleh kehidupan. Dalam metode pendekatan pertama (non materialis),
titik mulanya adalah kesadaran yang dianggap sebagai individu hidup; dalam
metode pendekatan kedua (materialis), yang menyesuaikan diri (terhadap
keadaanmaterial) adalah individu-individu hidup riil itu sendiri, sedangkan
kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran mereka."
Pada
hakikatnya manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan,
alam semesta memproses terjadinya perubahan pada permukaan bumi yang semakin
lama semakin muncul perubahannya. Sedangkan manusia disibukkan dengan aktivitas
dan pemikiran-pemikiran yang membuktikan suatu kebenaran dan logika mengenai
perkembangan dan perubahan keberadaan bentuk bumi sesungguhnya. Ilmuwan-ilmuwan
alam dengan etika yang dimilikinya mengeluarkan kemampuan mereka untuk
memikirkan kontradiksi yang tercipta
dari suatu bumi. masih dapat disangsikan apakah mayoritas
ilmuwan-ilmuwan alam akan begitu cepat menyadari kontradiksi dari suatu bumi
yang berubah padahal dianggap mengandung organisme-organisme kekal (immutable
= tidak berubah-ubah), seandainya menyingsingnya konsepsi bahwa alam tidak
saja ada, melainkan telah menjadi berada
dan menjadi tidak berada, tidak
mendapatkan dukungan dari suatu sumber lain. Geologi telah bangkit dan
menunjukkan bahwa, lapisan-lapisan bumi tidak saja terbentuk secara berurutan
dan didepositkan satu di atas yang lainnya, melainkan juga kulit-kulit
(selongsong) dan kerangka-kerangka tulang binatang-binatang yang sudah punah
dan pokok-pokok batang, dedaunan dan buah-buahan tanaman-tanaman yang sudah
tiada lagi yang terkandung dalam lapisan-lapisan itu. Orang harus menetapkan
pikirannya untuk mengakui bahwa tidak hanya bumi sebagai suatu keutuhan,
melainkan juga permukaannya yang sekarang dan tanaman-tanaman dan
binatang-binatang yang hidup di atasnya memiliki suatu sejarah dalam waktu.
Mula-mula pengakuan itu terjadi dengan penuh keengganan. Teori Cuvier mengenai
putaran-putaran (revolutions) bumi adalah revolusioner dalam kata-kata
dan reaksioner dalam isinya. Gantinya suatu penciptaan adikodrati tunggal
diajukannya suatu deretan penuh tindakan-tindakan penciptaan yang
berulang-ulang, menjadikan keajaiban suatu pengungkit hakiki dari alam. Lyell
mula-mula menjadikan geologi dapat dimengerti dengan menggantikan
revolusi-revolusi dadakan karena suasana-suasana (-hati) sang pencipta dengan
efek-efek berangsur-angsur dari suatu transformasi lamban dari bumi.
Seringkali
manusia mendoktrin alam semesta dalam segala bentuk, banyak pemikiran-pemikiran
atau ilmu-ilmu pengetahuan mengenai antarketerkaitan-antarketerkaitan
(inter-connections), berlawanan dengan metafisika. hukum-hukum dialektika
diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat manusia. Karena hukum-hukum itu
tidak lain yalah hukum-hukum yang paling umum dari kedua aspek perkembangan
historikal, maupun dari pikiran itu sendiri. Dalam gaya idealis yang di
kembangkan oleh Hegel sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama,
dalam bagian pertama karyanya Logic, dalam Doktrin mengenai Keberadaan
(Being); yang kedua mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting
dari Logic, Doktrin mengenai Hakekat (Essence); akhirnya, yang ketiga
merupakan hukum fundamental bagi rancang- bangun seluruh sistem itu.
Kesalahannya terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum ini disisipkan pada alam
dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, dan tidak dideduksi dari situ. Inilah
sumber dari seluruh pendekatan yang dipaksakan dan seringkali melampaui batas
(keterlaluan); semesta-alam, mau-tidak-mau, mesti bersesuaian dengan sebuah
sistem pikiran yang sendiri cuma produk dari suatu tahap tertentu dari evolusi
pikiran manusia. Jika kita membalikkan semuanya itu, maka segala sesuatu
menjadi sederhana, dan hukum-hukum dialektika yang tampak begitu luar-biasa
misterius dalam filsafat idealis seketika menjadi sederhana dan jelas seperti
siang-hari bolong.
Alam semesta
dan manusia merupakan misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang. Keduanya
memiliki korelasi yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Proses simbiosis mutualisme yang terjadi antara alam semesta dan manusia akan
terus berlangsung selama manusia memperlakukan alam sewajarnya. Manusia dengan
logika dan etika mencoba membuka dan memecahkan segala kebenaran yang tekandung
pada penciptaan alam semesta. Dengan kesibukkan mereka yang hanya dapat
berfikir tanpa memberikan solusi yang secara tidak langsung menyebabkan eksploitasi
alam yang banyak terjadi telah menyebabkan ketidakseimbangan alam itu sendiri (Nature
Imbalance) sehingga keberadaan dan keadaaan alam tidak dapat diprediksikan.
Pemanasan global, Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan dan Bencana alam lainnya
adalah akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. Pertanyaan mendasar yang
harus kita pikirkan sekarang adalah Apakah hari ini kita tergolong orang-orang
yang melakukan perbaikan terhadap alam, ataukah sebaliknya? Terkadang kita
hanya disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya tidak memberikan
kontribusi yang baik terhadap alam, walaupun dengan secara nyata kita mengkaji
tentang kebenaran alam semesta. Janganlah kita hanya berpangku tangan, marilah
kita berbuat sesuatu terhadap alam ini!
Mahasiswa
sebagai bagian dari masyarakat manusia yang mempunyai daya nalar serta pola
pikir yang lebih dibanding masyarakat lain pada umumnya dituntut untuk lebih
siap baik mental maupun fisik, manakala mereka terjun kedalam kehidupan
bermasyarakat yang harus mengaplikasikan sikapnya dengan melibatkan masyarakat
dan alam (Lingkungan Sekitar) sebagai salah satu sarananya. Karena itu, hal yang sangat baik untuk menciptakan sebuah
pemikiran antara keseimbangan manusia dan alam semesta yang merupakan
dialektika keberagaman antara logika dan etika yang benar-benar seimbang yang
dapat memberikan kontibusi baik itu terhadap masyarakat manusia maupun alam
semesta.
GVR.I.110113.001.PLR
GVR.I.110113.001.PLR






0 komentar:
Posting Komentar